Pages

Wednesday, June 10, 2026

Kebersihan di Lingkungan Madrasah sebagai Penerapan Kurikulum Berwawasan Lingkungan Hidup

Kebersihan merupakan salah satu aspek fundamental dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan produktif. Di madrasah, kebersihan tidak hanya dipandang sebagai rutinitas fisik, tetapi juga sebagai wujud nyata penerapan kurikulum berwawasan lingkungan hidup. Kurikulum ini menekankan pentingnya kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, serta nilai spiritual dalam menjaga alam sebagai amanah Allah. Dengan demikian, kebersihan madrasah menjadi bagian integral dari pendidikan karakter dan pembentukan budaya cinta lingkungan.

Kebersihan sebagai Budaya Madrasah

Madrasah adalah tempat siswa belajar, berinteraksi, dan membentuk kepribadian. Lingkungan yang bersih akan mendukung konsentrasi, kesehatan, dan kenyamanan siswa. Ketika kebersihan dijadikan budaya, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari ibadah. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya dapat dikaitkan dengan nilai disiplin dan tanggung jawab, sementara menjaga kebersihan kelas mencerminkan rasa syukur atas nikmat fasilitas yang diberikan.

Integrasi dalam Kurikulum Berwawasan Lingkungan

Kurikulum berwawasan lingkungan hidup menekankan keterkaitan antara ilmu pengetahuan, sikap, dan tindakan nyata. Kebersihan madrasah dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran:

IPA/Informatika
Siswa diajak memahami dampak sampah plastik terhadap ekosistem dan membuat solusi digital sederhana untuk monitoring kebersihan.

Bahasa Indonesia 
Siswa menulis cerita atau puisi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan Madrasah.

Pendidikan Agama Islam
Guru menekankan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, sehingga menjaga madrasah berarti menjaga amanah Allah.

Dengan cara ini, kebersihan tidak hanya menjadi aktivitas rutin, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran holistik.

Praktik Nyata di Madrasah
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan madrasah untuk menerapkan kebersihan sebagai bagian dari kurikulum berwawasan lingkungan hidup antara lain:

Program Jumat Bersih
Seluruh warga madrasah bergotong royong membersihkan kelas, halaman, dan taman.

Bank Sampah Madrasah 
Siswa diajak memilah sampah organik dan anorganik, kemudian mengelolanya untuk daur ulang atau kompos.

Green Class Competition
Lomba antar kelas dalam menjaga kebersihan dan keindahan ruang belajar.

Mindful Walking 54321
Siswa berjalan di sekitar madrasah sambil mengaktifkan pancaindra, merasakan kedekatan dengan alam, dan menuliskan refleksi tentang kebersihan lingkungan.

Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan praktis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis dan spiritual.

Dampak Positif

Penerapan kebersihan di madrasah sebagai bagian dari kurikulum berwawasan lingkungan hidup memberikan dampak positif yang luas:
Kesehatan, lingkungan bersih mengurangi risiko penyakit menular.
Karakter, siswa terbiasa disiplin, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.
Spiritualitas, kebersihan dipahami sebagai bagian dari iman dan ibadah.
Ekologi, siswa menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Kebersihan di lingkungan madrasah bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari pendidikan holistik yang mengintegrasikan ilmu, sikap, dan nilai spiritual. Dengan menjadikan kebersihan sebagai budaya dan praktik nyata, madrasah dapat mencetak generasi yang sehat, berkarakter, dan cinta lingkungan. Inilah wujud nyata kurikulum berwawasan lingkungan hidup yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan cinta dan tanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama. 

Thursday, May 21, 2026

Lentingkan Prestasi, Jurnalistik MAN 3 Majalengka Raih 3 Juara Harapan di Event Lomba Nasional

Jatiwangi, Kamis, 21/05/26. Untuk kesekian kalinya ekstrakulikuler Jurnalistik MAN 3 Majalengka kembali mendulang prestasi. Kali ini tidak tanggung-tanggung mereka mendapatkan prestasi di event lomba video tiktok tingkat Nasional yang diselenggarakan 2 institusi kredibel.

Prestasi gemilang yang diraih ekstra kulikuler jurnalistik berturut-turut adalah harapan I di tiga kategori lomba Video Pelajar yang sama-sama dilaksanakan di tingkat Nasional, 1 kategori di The Olympus Champion Bali dan 2 kategori di Global House.

Selaku Pembina Esktrakulikuler Jurnaslitik, Firman Saefatullah memberikan apresiasi untuk para siswa yang mengikuti ajang bergengsi nasional ini. Lomba ini menjadi ajang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak-anak. 

Lomba ini memantik potensi yang dimiliki oleh anak-anak ekstrakulikuler jurnalsitik, potensi mereka semakin terasah dan terahkan pada kegiatan yang menuntut daya kreatif dan optimalisasi karya. Karena dengan lomba ini mereka terus belajar dan berlatih dengan membuat karya-karya yang dapat mengharumkan nama madrasah. terang Firman.   

Nasya Sintia Dewi, ketua ekstrakulikuler jurnalitik mengungkapkan kegembiraanya atas prestasi yang di raih oleh eskul yang dipimpinnya. Kesungguhan yang terus menerus menjadi spirit dalam membuat karya akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan, kita memang tidak masuk menjadi juara utama tapi pencapaian ini bisa membuktikan bahwa kita mampu berperan dalam mengharukan nama madrasah, ungkapnya.  

Lomba ini diikuti oleh anggota ekstrakulikuler jurnaslitik yang di bagi kedalam tiga kategori lomba, pertama lomba video kuliner lokal diikuti oleh Nasya Sintia Dewi kelas XI E dan Fadlan Maulana Dzikry kelas XI A. 

Kedua kategori video tempat menarik di daerahku diikuti oleh Ali Rahman Tsani kelas X A, Satria Agung Nursahid kelas XI B, Jauza Desfira Khumairah kelas XI F dan Radyana Nuraulida Sopian Kelas Xi F. 

Ketiga, Kategori Potret Positif Sekolahku diikuti oleh Desifa rahmawati kelas XA, Dewi Sita Apriliando kelas XA, Tiara Zulfaa Nurcahya Kelas XA, Nazril Rizq Nefriady Chaniago kelas XA dan Sidiq Firmansyah Kelas XI B.

Hj. Ela Nurlela, M. Pd, Kepala MAN 3 Majalengka turut mengapresiasi prestasi yang terus diukir oleh semua ekstrakulikuler yang ada di madrasah. Keberhasilan dalam mengikuti perlombaan itu bukan sesuatu yang instan, semua harus dipersiapkan dan ditreatmen dengan baik.

Hari ini prestasi kembali dipersembahkan oleh ekstrakulikuler Jurnalistik. Ibu merasa bangga dan meminta kepada semuanya untuk terus berkarya, jangan patah semangat dan jangan lupa bahagia, pungkas Hj. Ela.

Monday, May 11, 2026

Hemat Energi = Cinta Lingkungan

Menghemat energi bukan sekadar mengurangi tagihan listrik, tetapi merupakan wujud nyata cinta kita kepada bumi. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan. Mematikan lampu saat tidak diperlukan, mencabut colokan setelah digunakan, menggunakan lampu LED, atau mengatur suhu AC dengan bijak adalah bentuk kasih sayang terhadap lingkungan.

Bayangkan anak-anak memeluk bumi berbentuk hati. Itulah simbol sederhana yang menggambarkan bahwa bumi adalah sahabat yang harus kita jaga. Dengan hemat energi, kita sedang memeluk bumi, melindunginya dari kerusakan, dan memastikan ia tetap tersenyum untuk generasi mendatang.

Energi yang kita gunakan sebagian besar masih berasal dari sumber daya alam yang terbatas dan menghasilkan emisi karbon. Jika kita boros, maka semakin besar pula dampak negatif terhadap iklim dan lingkungan. Sebaliknya, dengan hemat energi, kita membantu mengurangi polusi udara, menjaga kualitas lingkungan, dan memperlambat laju pemanasan global.

Madrasah sebagai tempat belajar bisa menjadi teladan. Panel surya di atap, turbin angin kecil di halaman, atau sekadar kebiasaan mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan adalah langkah nyata menuju masa depan hijau. Guru, siswa, dan staf dapat bersama-sama membangun budaya hemat energi sebagai bagian dari pendidikan karakter dan cinta lingkungan.

Mari jadikan slogan “Hemat Energi = Cinta Lingkungan” bukan hanya kata-kata, tetapi tindakan sehari-hari. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, kita bisa menjaga bumi tetap sehat, indah, dan layak huni.

Hemat energi hari ini, selamatkan bumi untuk generasi esok.

Atur AC di 24–26°C – Nyaman Tanpa Boros Energi

Air conditioner (AC) adalah salah satu perangkat yang paling banyak digunakan di madrasah maupun rumah untuk menciptakan suasana sejuk dan nyaman. Namun, penggunaan AC yang tidak bijak sering kali menjadi penyebab utama pemborosan energi. Menyetel suhu terlalu rendah, misalnya di bawah 20°C, memang terasa dingin, tetapi sebenarnya tidak diperlukan dan justru membuat konsumsi listrik melonjak.

Suhu ideal untuk kenyamanan sekaligus efisiensi energi adalah 24–26°C. Pada rentang suhu ini, ruangan tetap terasa sejuk, tubuh tidak mengalami perbedaan suhu ekstrem, dan listrik yang digunakan lebih hemat. Selain itu, pengaturan suhu yang tepat membantu menjaga kesehatan, karena udara yang terlalu dingin bisa menyebabkan masalah pernapasan atau penurunan daya tahan tubuh.

Selain pengaturan suhu, perawatan AC juga sangat penting. Membersihkan filter secara rutin akan membuat AC bekerja lebih efisien, mengurangi beban listrik, dan menjaga kualitas udara tetap sehat. AC yang kotor memerlukan daya lebih besar untuk menghasilkan suhu yang sama, sehingga boros energi dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Mari jadikan kebiasaan mengatur suhu AC di 24–26°C sebagai bagian dari budaya hemat energi di madrasah. Guru dan siswa dapat saling mengingatkan, sementara petugas piket bisa memastikan AC dimatikan setelah jam pelajaran selesai. Dengan langkah kecil ini, kita tidak hanya menghemat listrik, tetapi juga turut menjaga bumi dari dampak pemanasan global.

Nyaman bukan berarti boros—atur suhu dengan bijak, sejukkan bumi dengan cinta.

Gunakan Lampu LED – Terang Hemat dan Tahan Lama

Lampu adalah salah satu kebutuhan utama di madrasah maupun rumah. Tanpa pencahayaan yang baik, kegiatan belajar dan bekerja tentu akan terganggu. Namun, pilihan jenis lampu yang kita gunakan sangat menentukan seberapa besar energi yang terpakai. Lampu pijar tradisional memang murah saat dibeli, tetapi boros listrik dan cepat rusak. Sebaliknya, lampu LED hadir sebagai solusi cerdas: terang, hemat, dan tahan lama.

Lampu LED mampu menghemat energi hingga 80% dibandingkan lampu pijar. Artinya, dengan cahaya yang sama terang, listrik yang digunakan jauh lebih sedikit. Selain itu, LED memiliki umur pakai lebih panjang, bisa mencapai puluhan ribu jam. Dengan demikian, madrasah tidak perlu sering mengganti lampu, sehingga biaya perawatan juga berkurang.

Keunggulan lain dari LED adalah ramah lingkungan. Lampu ini tidak mengandung merkuri atau bahan berbahaya, sehingga lebih aman bagi kesehatan. Cahaya yang dihasilkan pun lebih stabil, tidak berkedip, dan nyaman untuk mata. Hal ini sangat penting bagi siswa yang belajar berjam-jam di kelas.

Mari kita jadikan gerakan “Gunakan Lampu LED” sebagai bagian dari budaya hemat energi di madrasah. Setiap ruang kelas, laboratorium, dan kantor bisa beralih ke LED secara bertahap. Guru dan siswa dapat ikut mengkampanyekan manfaat LED melalui poster, mading, atau media sosial madrasah.

Dengan memilih LED, kita bukan hanya menghemat listrik, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap bumi. Cahaya yang terang dan hemat adalah simbol masa depan yang cerah.

Terang hemat, masa depan cerah—pilih LED untuk bumi yang lebih hijau.

Matikan Saklar Setelah Digunakan – Hemat Listrik, Selamatkan Bumi

Kebiasaan kecil sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat besar. Salah satunya adalah membiasakan diri untuk mematikan saklar dan mencabut colokan setelah digunakan. Banyak peralatan listrik tetap mengonsumsi energi meski tidak sedang dipakai, hanya karena masih terhubung ke sumber daya. Fenomena ini dikenal sebagai standby power atau listrik laten. Jika dibiarkan, energi yang terbuang akan menambah beban tagihan sekaligus memperbesar jejak karbon.

Bayangkan sebuah kelas dengan komputer, kipas angin, dan proyektor yang dibiarkan tetap tersambung meski sudah tidak digunakan. Dalam sehari, energi yang terbuang bisa cukup besar. Jika seluruh madrasah melakukan hal yang sama, pemborosan energi akan semakin terasa. Sebaliknya, jika setiap siswa dan guru membiasakan diri mencabut colokan, maka penghematan energi akan signifikan.

Gerakan “Matikan Saklar Setelah Digunakan” adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap bumi. Tangan yang mencabut colokan adalah simbol tanggung jawab, dan bumi yang tersenyum adalah gambaran hasil dari tindakan sederhana tersebut. Dengan langkah kecil ini, kita turut menjaga lingkungan, mengurangi emisi, dan menanamkan kebiasaan baik kepada generasi muda.

Mari jadikan gerakan ini sebagai budaya madrasah. Guru dapat mengingatkan siswa setelah pelajaran selesai, sementara siswa bisa saling mengingatkan teman sekelas. Petugas piket pun dapat menambahkan pemeriksaan saklar sebagai bagian dari rutinitas harian.

Hemat listrik hari ini, bumi tersenyum untuk masa depan.

Matikan Lampu Saat Siang – Cahaya Alami untuk Terang Sehari-hari

Sinar matahari adalah sumber energi alami yang paling murah, paling sehat, dan paling ramah lingkungan. Di siang hari, cahaya matahari mampu menerangi ruangan dengan sempurna tanpa bantuan listrik. Sayangnya, kebiasaan menyalakan lampu meski jendela sudah terbuka masih sering terjadi di madrasah maupun rumah. Padahal, tindakan kecil ini bisa menambah beban listrik dan memperbesar jejak karbon yang merugikan bumi.

Mari kita biasakan memanfaatkan cahaya alami. Membuka jendela dan tirai di pagi hingga siang hari bukan hanya membuat ruangan terang, tetapi juga menghadirkan udara segar yang menyehatkan. Dengan ruangan yang terang alami, suasana belajar menjadi lebih nyaman, konsentrasi meningkat, dan energi listrik dapat dihemat.

Bayangkan jika setiap kelas di sekolah mematikan lampu saat siang hari. Dalam satu bulan, penghematan listrik bisa sangat signifikan. Tagihan listrik berkurang, lingkungan lebih terjaga, dan kita turut berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Kebiasaan sederhana ini adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap bumi.

Selain itu, cahaya alami memberi nuansa hangat yang tidak bisa digantikan oleh lampu buatan. Anak-anak akan belajar menghargai alam, menyadari bahwa energi matahari adalah anugerah yang harus dimanfaatkan dengan bijak.

Mari jadikan gerakan “Matikan Lampu Saat Siang” sebagai budaya di madrasah. Guru, siswa, dan staf bersama-sama mengingatkan untuk mematikan lampu ketika cahaya matahari sudah cukup. Dengan langkah kecil ini, kita sedang menanamkan nilai cinta lingkungan dan tanggung jawab energi kepada generasi muda.

Matikan lampu, buka jendela, biarkan matahari menerangi hari kita. Hemat energi hari ini, selamatkan bumi untuk masa depan.

Thursday, February 12, 2026

PMB MAN 3 Majalengka

 

MAN 3 MAJALENGKA

✿ MA Plus Keterampilan ✿ MA Penyelenggara Riset ✿ MA Berasrama

Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) 2026-2027


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

MAN 3 Majalengka membuka penerimaan murid baru 

Tahun Pelajaran 2026-2027

Gelombang 1

Pendaftaran

Jalur Prestasi 02 - 28 Februari 2026
Jalur Reguler 02 Februari – 19 Juni 2026

Melengkapi Dokumen (diserahkan saat daftar ulang)

  • Pas Foto 3x4 berlatar merah
  • Fotocopy Kartu Keluarga
  • Fotocopy Akta Kelahiran
  • Fotocopy Ijazah/ Surat Keterangan Lulus
  • KIP/ PKH/ KPS/ SKTM (bagi yang memiliki)
  • Sertifikat/ Piagam Prestasi, Surat Keterangan Rangking/ Tahfidz (untuk jalur prestasi

Mengisi 👉 Formulir PMB MAN 3 Majalengka

Program Keterampilan:

  • Tata Boga
  • Tata Busana
  • Multimedia

Tersedia asrama/ Pondok Pesantren dengan program tahfidz dan Qiraatul Kutub
Ekstrakurikuler: Olah Raga, Seni, dan Jurnalis


Pengumuman Seleksi

Administrasi 22 Juni 2026

Alamat Kampus:

MAN 3 MAJALENGKA
Jl. Lanud S. Soekani 110 Ds. Mekarsari Kec. Jatiwangi Kab. Majalengka 45454


Contact Person:


Majalengka, Januari 2026

Panitia PMBM

MAN 3 Majalengka

Thursday, February 5, 2026

PODCAST MAN 3 MAJALENGKA KREATIFKAN STRATEGI REKRUTMEN MURID BARU

       

             Podcast Man 3 Majalengka diinisiasi oleh ide besar Kepala Madrasah, Ela Nurlaela, M. Pd yang berharap adanya ikhtiar optimalisasi peran media sosial yang dimiliki madrasah dan ekstrakulikuler. Setiap media social diharapkan mampu berperan dalam publikasi kegiatan dan rencana program madrasah.

Media sosial menjadi tempat bercengkerama para netizen lintas generasi. Tempat interkasi ini menjadi pilihan yang terbaik untuk medeklarasikan keterbukaan informasi dan jalan ninja kehumasyan guna ketercapaian penerimaan dari stakeholder Madrasah. Dari Mulai murid dan calon murid hingga orang tua murid dan orang tua calon murid, dominan berinteraksi di wasilah kekinian tersebut.

 Kreatifitas strategi

Sebagai kepala Madrasah, Ela berharap semua tayangan Podcast dijadikan sebagai mercusuar dengan jangkaun yang jauh. Pada pelaksanaanya mercusuar ini meniscayakan tersebarnya berita-berita tentang MAN 3 Majalengka melalui penayangan video obrolan santai tapi berbobot itu.

Ide ini terlontar dalam kesempatan diskusi Bersama tenaga pendidik dan kependidikan MAN 3 Majalengka pada awal semester genap tahun Pelajaran 2025/2026. Ela memaparkan strategi Sistem Penerimaan Murid Baru di awal tahun Pelajaran yang akan datang. Salah satu yang dicetuskan olehnya adanya kreatifitas baru dalam mengemas misi rekrutmen siswa ini melalui usaha mempublikasikan Madrasah lewat jalur dalam jaringan atau online berbasis media social yang trending.

Pilihan Podcast sebagai jalur publikasi bukan tanpa Analisa. Media social kekinian kerap menampilan Podcast sebagai adegan obrolan ringan membahas tema-tema yang pada hakikatnya berat, akan tetapi ditampilkan dengan kalimat-kalimat yang ringan dan mudah dimengerti pemirsa. Dipilihlah ekstrkulikuler Jurnalistik untuk menggawangi program Podcast besutan pemimpin Perempuan kekinian ini.

Strategi yang kreatif sangat dibutuhkan dalam berkontestasi di musim rekrutmen murid baru tahun depan. Pemanpatan fasilitas multimedia yang madrasah miliki dan pemberdayaan esktrakulikuler yang juga mengawal visi misi madrasah menjadi 2 garda utama dalam pelaksaanaan strategi kreatif Bernama Podcat ini, jelas Ela Nurlaela.

Podcast dan Jurnalistik

Menjadi leading sector program yang sama sekali baru di lingkungan MAN 3 Majalengka, ekstrakulikuler Jurnalistik merasa tertantang dan melabeli dirinya sebagai pembelajar keras (Hard leaner). Sebagaimana di katakan Firman Saefatullah, M. Pd selaku Pembina ekstrakulikuler Jurnalsitik Mantika bahwa Untuk menyiapkan adegan ngobrol santai yang direkam secara ciamik tentu membutuhkan persiapan yang tidak sederhana.

Program baru ini menjadi tantangan yang diawal menerimanya tidak mudah kita urai dari mana kita memulainya, akan tetapi berkat arahan dari bu kepala Madrasah yang menghendaki Beber bari Layar (sunda red) maka Bismillah kita melabuhkan prinsip melaksanakan amanh dengan Learning by Doing. Sehingga dapat dilalui tahapan yang kita urai dari mulai menyiapkan perangkat baik keras maupun halus sampai membekali SDM siswa jurnalsitik dengan ilmu komunikasi dan operasinoal perangkat tadi. Ujar Firman.

Uji coba menjadi pintu gerbang pelaksanaan program ini, nara sumber dan pembawa acara yang dipirsakanpun masih gagap kamera. Dalam kesempatan lain kamera masih belum mau bersahabat dengan perangat lainnya. Audio yang tidak sinkron dengan tangkapan gambar masih sering ditemui. Tantangan yang ada tidak menjadikan aral bagi semua crew Jurnalistik mantika. Justru apa yang ditemui dijadikan sebagai sumber belajar untuk menciptakan adegan ngobrol santai yang mendekati sempurna. Pungkas Firman.