Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengingatkan bahwa krisis terbesar dunia pendidikan bukanlah kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab.
Kalimat itu terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan berbagai persoalan bangsa. Korupsi dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Penyebaran kebencian sering dilakukan oleh mereka yang menguasai teknologi. Kekerasan verbal di media sosial lahir dari tangan-tangan yang sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan.
Masalahnya ternyata bukan semata-mata kurangnya ilmu. Masalahnya adalah ilmu yang kehilangan arah moral.
Pemikiran Al-Attas seakan bertemu dengan pesan KH. Hasyim Asy'ari yang menempatkan adab sebelum ilmu. Ki Hadjar Dewantara juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi menuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup.
Gus Dur kemudian memperluas cakrawala itu. Bagi beliau, pendidikan harus memanusiakan manusia. Pendidikan harus melahirkan pribadi yang menghargai perbedaan, mencintai kemanusiaan, dan mampu hidup bersama dalam keberagaman. Sementara Gus Mus mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan kasih sayang akan berubah menjadi kesombongan.
Di sisi lain, Nurcholish Madjid mengajarkan bahwa menjadi religius tidak berarti menolak kemajuan. Agama dan modernitas tidak perlu dipertentangkan. Justru keduanya harus berjalan beriringan agar kemajuan tidak kehilangan arah, dan nilai-nilai agama tidak terjebak dalam romantisme masa lalu.
Jika direnungkan, gagasan para tokoh itu sesungguhnya bertemu pada satu titik yang sama. Pendidikan bukan hanya urusan mencerdaskan kepala. Pendidikan adalah ikhtiar mematangkan hati.
Karena itulah saya selalu percaya bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak anak yang menguasai sains, teknologi, atau bahasa asing.
Semua itu penting.
Tetapi bangsa ini juga membutuhkan generasi yang mampu menggunakan ilmunya untuk menghadirkan kemaslahatan.
Dalam tradisi Islam, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula amanahnya. Ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan bersama tanggung jawab. Madrasah, dalam pandangan saya, sedang berusaha merawat semangat itu.
Bukan untuk menjadikan lulusannya lebih hebat daripada lulusan sekolah umum. Bukan pula untuk menciptakan sekat antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Melainkan untuk mengingatkan bahwa keberhasilan dunia tidak pernah boleh dipisahkan dari tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama manusia.
Tulisan ini bukan ajakan agar semua orang memilih madrasah. Saya juga tidak sedang membandingkan madrasah dengan sekolah umum seolah keduanya saling berhadapan. Keduanya merupakan bagian penting dari sistem pendidikan nasional.
Keduanya memiliki peran yang sama mulia. Namun saya ingin mengajak kita mengubah satu cara pandang. Barangkali yang perlu kita kejar bukanlah sekolah yang paling bergengsi. Melainkan sekolah yang paling mampu membantu anak-anak kita bertumbuh menjadi manusia seutuhnya.
Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Dunia membutuhkan orang-orang cerdas yang tetap memiliki hati. Kita mungkin tidak sedang kekurangan sekolah. Kita juga tidak sedang kekurangan kurikulum, gedung baru, ataupun teknologi pembelajaran. Yang mulai langka justru adalah kesadaran bahwa pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan jalan menuju kedewasaan sebagai manusia.
Sebagai guru, saya percaya ilmu akan terus berkembang mengikuti zaman. Teknologi akan terus berubah. Cara belajar pun akan selalu menemukan bentuk-bentuk baru. Namun ada satu hal yang saya yakini tidak akan pernah usang yaitu Adab.
Sebab ilmu dapat mengantarkan seseorang menuju keberhasilan. Tetapi adablah yang menentukan apakah keberhasilan itu akan membawa manfaat atau justru menghadirkan kerusakan.
Dan jika pendidikan masih ingin disebut sebagai ikhtiar memanusiakan manusia, maka tugas terbesarnya bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas, melainkan generasi yang mengetahui untuk apa kecerdasannya digunakan.
Mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar prestasi, kita perlu kembali mengingat satu hal yang paling sederhana. Bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah melahirkan manusia yang paling pandai. Melainkan melahirkan manusia yang, karena ilmunya, menjadi semakin rendah hati; yang, karena pengetahuannya, semakin bermanfaat; dan yang, karena adabnya, mampu menjaga martabat dirinya sekaligus memuliakan orang lain.
Di situlah, saya percaya, peradaban yang baik selalu bermula.
*Firman Saefatullah, M. Pd (Guru MAN 3 Majalengka)
