Pusat Informasi dan Publikasi MAN 3 Majalengka
Showing posts with label MAN 3 Majalengka. Show all posts
Showing posts with label MAN 3 Majalengka. Show all posts

Thursday, June 11, 2026

Sanitasi di Lingkungan Madrasah sebagai Pilar Pendidikan Sehat

Sanitasi merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan produktif. Di madrasah, sanitasi tidak hanya berkaitan dengan kebersihan fisik, tetapi juga mencerminkan kepedulian terhadap kesehatan, disiplin, dan tanggung jawab sosial. Dengan penerapan sanitasi yang baik, madrasah dapat menjadi tempat yang mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal, baik dari sisi akademik maupun karakter.

Sanitasi sebagai Budaya Madrasah

Madrasah adalah ruang belajar sekaligus rumah kedua bagi siswa. Lingkungan yang bersih dan sehat akan meningkatkan konsentrasi, mencegah penyakit, serta menumbuhkan rasa nyaman. Ketika sanitasi dijadikan budaya, siswa belajar bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari ibadah dan rasa syukur atas nikmat fasilitas yang diberikan. Misalnya, mencuci tangan sebelum makan atau menjaga kebersihan toilet dapat dikaitkan dengan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.


Integrasi Sanitasi dalam Kurikulum

Sanitasi dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum berwawasan lingkungan hidup. Beberapa contoh penerapannya adalah:

IPA/Informatika
Siswa mempelajari dampak buruk sanitasi yang tidak terjaga terhadap kesehatan dan membuat aplikasi sederhana untuk monitoring kebersihan.

Bahasa Indonesia
Siswa menulis artikel atau puisi tentang pentingnya menjaga sanitasi di sekolah.

Pendidikan Agama Islam 
Guru menekankan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, sehingga menjaga sanitasi madrasah berarti menjaga amanah Allah.

Dengan cara ini, sanitasi tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga bagian dari pembelajaran holistik yang menanamkan nilai ekologis dan spiritual.

Praktik Nyata Sanitasi di Madrasah

Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan madrasah untuk meningkatkan sanitasi antara lain:

Program Cuci Tangan Bersama
Menyediakan fasilitas wastafel dengan sabun di area strategis dan membiasakan siswa mencuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan.

Perawatan Toilet dan Kamar Mandi
Memastikan fasilitas sanitasi selalu bersih, tersedia air, dan tidak menimbulkan bau.

Pengelolaan Sampah
Menyediakan tempat sampah terpilah dan mengajarkan siswa cara membuang sampah sesuai jenisnya.

Inspeksi Sanitasi Rutin
Guru dan siswa bersama-sama melakukan pengecekan kebersihan kelas, kantin, dan lingkungan sekolah.

Green Class Competition 
Lomba antar kelas dalam menjaga kebersihan dan sanitasi ruang belajar.

Dampak Positif Sanitasi

Penerapan sanitasi yang baik di madrasah memberikan dampak luas
Kesehatan Mencegah penyakit menular seperti diare, flu, dan infeksi kulit.
Karakter Menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Spiritualitas Kebersihan dipahami sebagai bagian dari iman dan ibadah.
Ekologi Siswa terbiasa menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih dan sehat.

Sanitasi di lingkungan madrasah bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari pendidikan holistik yang mengintegrasikan ilmu, sikap, dan nilai spiritual. Dengan menjadikan sanitasi sebagai budaya dan praktik nyata, madrasah dapat mencetak generasi yang sehat, berkarakter, dan cinta lingkungan. Inilah wujud nyata kurikulum berwawasan lingkungan hidup yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan cinta dan tanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama.

Wednesday, June 10, 2026

Kebersihan di Lingkungan Madrasah sebagai Penerapan Kurikulum Berwawasan Lingkungan Hidup

Kebersihan merupakan salah satu aspek fundamental dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan produktif. Di madrasah, kebersihan tidak hanya dipandang sebagai rutinitas fisik, tetapi juga sebagai wujud nyata penerapan kurikulum berwawasan lingkungan hidup. Kurikulum ini menekankan pentingnya kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, serta nilai spiritual dalam menjaga alam sebagai amanah Allah. Dengan demikian, kebersihan madrasah menjadi bagian integral dari pendidikan karakter dan pembentukan budaya cinta lingkungan.

Kebersihan sebagai Budaya Madrasah

Madrasah adalah tempat siswa belajar, berinteraksi, dan membentuk kepribadian. Lingkungan yang bersih akan mendukung konsentrasi, kesehatan, dan kenyamanan siswa. Ketika kebersihan dijadikan budaya, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari ibadah. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya dapat dikaitkan dengan nilai disiplin dan tanggung jawab, sementara menjaga kebersihan kelas mencerminkan rasa syukur atas nikmat fasilitas yang diberikan.

Integrasi dalam Kurikulum Berwawasan Lingkungan

Kurikulum berwawasan lingkungan hidup menekankan keterkaitan antara ilmu pengetahuan, sikap, dan tindakan nyata. Kebersihan madrasah dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran:

IPA/Informatika
Siswa diajak memahami dampak sampah plastik terhadap ekosistem dan membuat solusi digital sederhana untuk monitoring kebersihan.

Bahasa Indonesia 
Siswa menulis cerita atau puisi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan Madrasah.

Pendidikan Agama Islam
Guru menekankan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, sehingga menjaga madrasah berarti menjaga amanah Allah.

Dengan cara ini, kebersihan tidak hanya menjadi aktivitas rutin, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran holistik.

Praktik Nyata di Madrasah
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan madrasah untuk menerapkan kebersihan sebagai bagian dari kurikulum berwawasan lingkungan hidup antara lain:

Program Jumat Bersih
Seluruh warga madrasah bergotong royong membersihkan kelas, halaman, dan taman.

Bank Sampah Madrasah 
Siswa diajak memilah sampah organik dan anorganik, kemudian mengelolanya untuk daur ulang atau kompos.

Green Class Competition
Lomba antar kelas dalam menjaga kebersihan dan keindahan ruang belajar.

Mindful Walking 54321
Siswa berjalan di sekitar madrasah sambil mengaktifkan pancaindra, merasakan kedekatan dengan alam, dan menuliskan refleksi tentang kebersihan lingkungan.

Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan praktis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis dan spiritual.

Dampak Positif

Penerapan kebersihan di madrasah sebagai bagian dari kurikulum berwawasan lingkungan hidup memberikan dampak positif yang luas:
Kesehatan, lingkungan bersih mengurangi risiko penyakit menular.
Karakter, siswa terbiasa disiplin, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.
Spiritualitas, kebersihan dipahami sebagai bagian dari iman dan ibadah.
Ekologi, siswa menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Kebersihan di lingkungan madrasah bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari pendidikan holistik yang mengintegrasikan ilmu, sikap, dan nilai spiritual. Dengan menjadikan kebersihan sebagai budaya dan praktik nyata, madrasah dapat mencetak generasi yang sehat, berkarakter, dan cinta lingkungan. Inilah wujud nyata kurikulum berwawasan lingkungan hidup yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan cinta dan tanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama. 

Monday, May 11, 2026

Hemat Energi = Cinta Lingkungan

Menghemat energi bukan sekadar mengurangi tagihan listrik, tetapi merupakan wujud nyata cinta kita kepada bumi. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan. Mematikan lampu saat tidak diperlukan, mencabut colokan setelah digunakan, menggunakan lampu LED, atau mengatur suhu AC dengan bijak adalah bentuk kasih sayang terhadap lingkungan.

Bayangkan anak-anak memeluk bumi berbentuk hati. Itulah simbol sederhana yang menggambarkan bahwa bumi adalah sahabat yang harus kita jaga. Dengan hemat energi, kita sedang memeluk bumi, melindunginya dari kerusakan, dan memastikan ia tetap tersenyum untuk generasi mendatang.

Energi yang kita gunakan sebagian besar masih berasal dari sumber daya alam yang terbatas dan menghasilkan emisi karbon. Jika kita boros, maka semakin besar pula dampak negatif terhadap iklim dan lingkungan. Sebaliknya, dengan hemat energi, kita membantu mengurangi polusi udara, menjaga kualitas lingkungan, dan memperlambat laju pemanasan global.

Madrasah sebagai tempat belajar bisa menjadi teladan. Panel surya di atap, turbin angin kecil di halaman, atau sekadar kebiasaan mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan adalah langkah nyata menuju masa depan hijau. Guru, siswa, dan staf dapat bersama-sama membangun budaya hemat energi sebagai bagian dari pendidikan karakter dan cinta lingkungan.

Mari jadikan slogan “Hemat Energi = Cinta Lingkungan” bukan hanya kata-kata, tetapi tindakan sehari-hari. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, kita bisa menjaga bumi tetap sehat, indah, dan layak huni.

Hemat energi hari ini, selamatkan bumi untuk generasi esok.

Atur AC di 24–26°C – Nyaman Tanpa Boros Energi

Air conditioner (AC) adalah salah satu perangkat yang paling banyak digunakan di madrasah maupun rumah untuk menciptakan suasana sejuk dan nyaman. Namun, penggunaan AC yang tidak bijak sering kali menjadi penyebab utama pemborosan energi. Menyetel suhu terlalu rendah, misalnya di bawah 20°C, memang terasa dingin, tetapi sebenarnya tidak diperlukan dan justru membuat konsumsi listrik melonjak.

Suhu ideal untuk kenyamanan sekaligus efisiensi energi adalah 24–26°C. Pada rentang suhu ini, ruangan tetap terasa sejuk, tubuh tidak mengalami perbedaan suhu ekstrem, dan listrik yang digunakan lebih hemat. Selain itu, pengaturan suhu yang tepat membantu menjaga kesehatan, karena udara yang terlalu dingin bisa menyebabkan masalah pernapasan atau penurunan daya tahan tubuh.

Selain pengaturan suhu, perawatan AC juga sangat penting. Membersihkan filter secara rutin akan membuat AC bekerja lebih efisien, mengurangi beban listrik, dan menjaga kualitas udara tetap sehat. AC yang kotor memerlukan daya lebih besar untuk menghasilkan suhu yang sama, sehingga boros energi dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Mari jadikan kebiasaan mengatur suhu AC di 24–26°C sebagai bagian dari budaya hemat energi di madrasah. Guru dan siswa dapat saling mengingatkan, sementara petugas piket bisa memastikan AC dimatikan setelah jam pelajaran selesai. Dengan langkah kecil ini, kita tidak hanya menghemat listrik, tetapi juga turut menjaga bumi dari dampak pemanasan global.

Nyaman bukan berarti boros—atur suhu dengan bijak, sejukkan bumi dengan cinta.

Gunakan Lampu LED – Terang Hemat dan Tahan Lama

Lampu adalah salah satu kebutuhan utama di madrasah maupun rumah. Tanpa pencahayaan yang baik, kegiatan belajar dan bekerja tentu akan terganggu. Namun, pilihan jenis lampu yang kita gunakan sangat menentukan seberapa besar energi yang terpakai. Lampu pijar tradisional memang murah saat dibeli, tetapi boros listrik dan cepat rusak. Sebaliknya, lampu LED hadir sebagai solusi cerdas: terang, hemat, dan tahan lama.

Lampu LED mampu menghemat energi hingga 80% dibandingkan lampu pijar. Artinya, dengan cahaya yang sama terang, listrik yang digunakan jauh lebih sedikit. Selain itu, LED memiliki umur pakai lebih panjang, bisa mencapai puluhan ribu jam. Dengan demikian, madrasah tidak perlu sering mengganti lampu, sehingga biaya perawatan juga berkurang.

Keunggulan lain dari LED adalah ramah lingkungan. Lampu ini tidak mengandung merkuri atau bahan berbahaya, sehingga lebih aman bagi kesehatan. Cahaya yang dihasilkan pun lebih stabil, tidak berkedip, dan nyaman untuk mata. Hal ini sangat penting bagi siswa yang belajar berjam-jam di kelas.

Mari kita jadikan gerakan “Gunakan Lampu LED” sebagai bagian dari budaya hemat energi di madrasah. Setiap ruang kelas, laboratorium, dan kantor bisa beralih ke LED secara bertahap. Guru dan siswa dapat ikut mengkampanyekan manfaat LED melalui poster, mading, atau media sosial madrasah.

Dengan memilih LED, kita bukan hanya menghemat listrik, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap bumi. Cahaya yang terang dan hemat adalah simbol masa depan yang cerah.

Terang hemat, masa depan cerah—pilih LED untuk bumi yang lebih hijau.

Matikan Saklar Setelah Digunakan – Hemat Listrik, Selamatkan Bumi

Kebiasaan kecil sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat besar. Salah satunya adalah membiasakan diri untuk mematikan saklar dan mencabut colokan setelah digunakan. Banyak peralatan listrik tetap mengonsumsi energi meski tidak sedang dipakai, hanya karena masih terhubung ke sumber daya. Fenomena ini dikenal sebagai standby power atau listrik laten. Jika dibiarkan, energi yang terbuang akan menambah beban tagihan sekaligus memperbesar jejak karbon.

Bayangkan sebuah kelas dengan komputer, kipas angin, dan proyektor yang dibiarkan tetap tersambung meski sudah tidak digunakan. Dalam sehari, energi yang terbuang bisa cukup besar. Jika seluruh madrasah melakukan hal yang sama, pemborosan energi akan semakin terasa. Sebaliknya, jika setiap siswa dan guru membiasakan diri mencabut colokan, maka penghematan energi akan signifikan.

Gerakan “Matikan Saklar Setelah Digunakan” adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap bumi. Tangan yang mencabut colokan adalah simbol tanggung jawab, dan bumi yang tersenyum adalah gambaran hasil dari tindakan sederhana tersebut. Dengan langkah kecil ini, kita turut menjaga lingkungan, mengurangi emisi, dan menanamkan kebiasaan baik kepada generasi muda.

Mari jadikan gerakan ini sebagai budaya madrasah. Guru dapat mengingatkan siswa setelah pelajaran selesai, sementara siswa bisa saling mengingatkan teman sekelas. Petugas piket pun dapat menambahkan pemeriksaan saklar sebagai bagian dari rutinitas harian.

Hemat listrik hari ini, bumi tersenyum untuk masa depan.

Matikan Lampu Saat Siang – Cahaya Alami untuk Terang Sehari-hari

Sinar matahari adalah sumber energi alami yang paling murah, paling sehat, dan paling ramah lingkungan. Di siang hari, cahaya matahari mampu menerangi ruangan dengan sempurna tanpa bantuan listrik. Sayangnya, kebiasaan menyalakan lampu meski jendela sudah terbuka masih sering terjadi di madrasah maupun rumah. Padahal, tindakan kecil ini bisa menambah beban listrik dan memperbesar jejak karbon yang merugikan bumi.

Mari kita biasakan memanfaatkan cahaya alami. Membuka jendela dan tirai di pagi hingga siang hari bukan hanya membuat ruangan terang, tetapi juga menghadirkan udara segar yang menyehatkan. Dengan ruangan yang terang alami, suasana belajar menjadi lebih nyaman, konsentrasi meningkat, dan energi listrik dapat dihemat.

Bayangkan jika setiap kelas di sekolah mematikan lampu saat siang hari. Dalam satu bulan, penghematan listrik bisa sangat signifikan. Tagihan listrik berkurang, lingkungan lebih terjaga, dan kita turut berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Kebiasaan sederhana ini adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap bumi.

Selain itu, cahaya alami memberi nuansa hangat yang tidak bisa digantikan oleh lampu buatan. Anak-anak akan belajar menghargai alam, menyadari bahwa energi matahari adalah anugerah yang harus dimanfaatkan dengan bijak.

Mari jadikan gerakan “Matikan Lampu Saat Siang” sebagai budaya di madrasah. Guru, siswa, dan staf bersama-sama mengingatkan untuk mematikan lampu ketika cahaya matahari sudah cukup. Dengan langkah kecil ini, kita sedang menanamkan nilai cinta lingkungan dan tanggung jawab energi kepada generasi muda.

Matikan lampu, buka jendela, biarkan matahari menerangi hari kita. Hemat energi hari ini, selamatkan bumi untuk masa depan.

Monday, December 8, 2025

Jurnalistik MAN 3 Majalengka Bukan Eskul "Kaleng-Kaleng"


Mantika-Senin, 8/12/2025. Dalam rangkaian kegiatan Hari Guru Nasional (HGN) di MAN 3 Majalengka, salah satunya dilakukan penyerahan Piagam Penghargaan Perlombaan dari Ketua Ekstrakulikuler (eskul) Jurnalistik Nasya kepada kepala Madrasah Hj. Ela Nurlaela. 

Piagam penghargaan yang pada hari Kamis di terima oleh eskul Jurnalistik dalam event perlombaan bertajuk Video Competition yang di gelar oleh Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Majalengka bekerjasama dengan Besokseninco Majalengka Youth Media. 

Dalam Perlombaan yang di gelar untuk memeriahkan hari Aids Se-Dunia tingkat Kabupaten Majalengka itu Eskul Jurnalistik Mantika meraih Juara Kedua dan mengalahkan puluhan peserta lainnya yang berasal dari sekolah Menengah se- Majalengka.

Film Pendek berjudul "Tentukan Masa Depanmu" karya Tim Film Ekstrakulikuler Jurnalistik MAN 3 Majalengka mendapatkan apresiasi dari dewan juri lomba dan netizen. Terbukti dengan raihan Juara kedua ini diperoleh dari penilaian Dewan Juri dan respon netizen di Media Sosial khususnya Instagram. 

Prestasi ini mendapatkan atensi istimewa dari Kepala Madraasah sebagai pembuktian kesungguhan siswa yang tergabung di ekstrakulikuler dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Khususnya di Eskul Jurnalistik Hj. Ela Nurlaela memberikan wejangannya jangan tanggung-tanggung dalam mempelajari semua hal tentang jurnalistik dan belajar pula untuk memperaktikannya dengan fasilitas yang ada di madrasah. 

Ekstrakulikuler itu wadah untuk pengembangan minat dan bakat siswa, siswa yang tergabung dalam eskul pasti menginginkan potensi yang dimilikinya berkembang. Makanya dengan arahan dan bimbingan dari Pembina diharapkan Ekstrakulikuler benar-benar mampu mengakomodasi harapan itu. Ekstrakulikuler Jurnalistik telah membuktikan mampu menjadi wadah pengembangan khususnya dalam bidang Jurnalistik dan berusaha mempraktikkan keilmuan yang dipelajari dengan mengikuti perlombaan higga meraih prestasi ini. Tegas Hj. Ela Nurlaela.

Sebagai tambahan informasi. Menurut keterangan dari Pembina Eskul Jurnalistik Mantika Firman Saefatulah, M.  Pd, sebelum raihan prestasi ini Ekstrakulikuler Jurnalistik juga mendapatkan prestasi tingkat Nasional yaitu Juara Harapan I Lomba Sinematik yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada bulan November 2025.

Tuesday, July 15, 2025

MAN 3 Majalengka Gelar IHT, Hadirkan Narasumber dari Kemenag dan DP3AKB

Jatiwangi (MAN 3 Majalengka) - Dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi siswa, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka sukses menyelenggarakan In House Training (IHT) bertajuk "Ramah Guruku, Ramah Madrasahku" pada Selasa, (15/7/2025). Kegiatan ini menjadi bagian integral dari komitmen MAN 3 Majalengka dalam mewujudkan sekolah ramah anak.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Barat, Drs. H. Usep Saepudin Muhtar, M.Pd. Beliau didampingi oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka, Dr. H. Agus Sutisna, M.Pd, serta Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Lela Nurlaela, M.Pd. Seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) MAN 3 Majalengka turut hadir dalam kegiatan yang menghadirkan narasumber penting dari Kementerian Agama dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Majalengka.

Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, dalam sambutan selamat datangnya menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tamu undangan, khususnya Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka dan Kabid Penmad Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat.

“Terima kasih kami ucapkan kepada Kabid Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat yang berkenan hadir pada kesempatan ini. Tak lupa kami juga menghaturkan terima kasih kepada Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka yang juga turut membersamai. Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari DP3AKB Kabupaten Majalengka yang akan memberikan wawasan terkait implementasi madrasah ramah anak,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Kabid Madrasah H. Usep Saepudin Muhtar menekankan pentingnya menyelaraskan program-program madrasah dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berorientasi pada perlindungan peserta didik. Beliau menyoroti beberapa kebijakan seperti larangan mengadakan perpisahan yang memberatkan, larangan membawa kendaraan bermotor ke sekolah, serta pengaturan jam masuk sekolah yang lebih pagi.

"Kebijakan gubernur itu memiliki tujuan positif bagi pendidikan di Jawa Barat, dan perlu kita dukung dengan sebaik-baiknya," ungkap Usep.

Ia juga menegaskan bahwa meskipun Kementerian Agama memiliki kebijakan tersendiri sebagai instansi vertikal, prinsip kehati-hatian dan semangat kolaboratif tetap menjadi prioritas utama dalam menyikapi kebijakan-kebijakan tersebut. Lebih lanjut, H. Usep Saepudin Muhtar menegaskan peran guru sebagai ujung tombak pendidikan yang harus senantiasa meningkatkan profesionalisme, menyajikan pembelajaran yang menyenangkan, serta menjadi figur yang ramah dan inklusif bagi seluruh peserta didik.

“Ramah guru adalah guru yang tidak galak, yang menyambut anak dengan senyum dan memberikan pembelajaran yang penuh kasih,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka, H. Agus Sutisna, turut mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini. Ia juga mendorong penerapan program ekoteologi di lingkungan madrasah, sebagai bagian dari pendekatan integral antara spiritualitas dan lingkungan hidup. Program ini dinilai sangat selaras dengan indikator madrasah ramah anak.

“Madrasah ramah anak adalah yang bebas dari segala bentuk kekerasan – fisik, verbal, maupun psikis. Tidak ada bullying. Ramah terhadap disabilitas, inklusif, dan anak-anak dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan mereka,” papar Agus.

Ia menutup sambutannya dengan seruan, "Mari kita wujudkan madrasah ramah anak, madrasah yang aman dan nyaman serta menyenangkan bagi anak-anak."

Dengan terselenggaranya kegiatan IHT ini, MAN 3 Majalengka diharapkan menjadi contoh nyata dalam penerapan nilai-nilai ramah anak di lingkungan pendidikan, sekaligus memperkuat budaya madrasah yang inklusif, aman, nyaman, sehat, dan menyenangkan bagi seluruh siswa.

(Humas)









 

Monday, July 14, 2025

Sambut Tahun Ajaran Baru, MAN 3 Majalengka Laksanakan Pembukaan MATSAMA dan KBM 2025/2026


Majalengka (MAN 3 Majalengka) – Pada hari pertama masuk madrasah, segenap civitas akademika MAN 3 Majalengka melaksanakan apel pagi di lapangan utama madrasah. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya kegiatan pembelajaran Tahun Ajaran 2025/2026 sekaligus pembukaan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) 2025 bagi seluruh calon peserta didik baru kelas X.

Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., bertindak sebagai pembina apel. Dalam amanatnya, beliau menegaskan bahwa Matsama adalah bagian integral dari rangkaian Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang bertujuan mengenalkan lingkungan, fasilitas, ciri khas, tata tertib, nilai-nilai, serta budaya madrasah kepada peserta didik baru.

Taaruf secara harfiah artinya saling mengenal. Di awal masuk tahun pelajaran, siswa baru perlu mengenal lingkungan madrasah, para guru, tenaga kependidikan, dan semua hal yang terkait dengan madrasahnya. Dengan begitu mereka bisa beradaptasi dengan baik dan belajar dengan penuh semangat,” ungkap Hj. Ela Nurlaela, M.Pd.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa pelaksanaan Matsama harus sejalan dengan Juknis Matsama 2025 dari Direktorat KSKK Madrasah Kementerian Agama RI, yang meliputi:

  1. Pengenalan dan Penyesuaian Diri – Membantu siswa baru mengenali lingkungan belajar, diri sendiri, serta lingkungan sosial agar siap secara mental, mengurangi kecemasan, dan mudah menyesuaikan diri dalam proses pembelajaran.

  2. Menumbuhkan Kebanggaan – Menanamkan rasa cinta, kebanggaan, dan tanggung jawab siswa baru terhadap madrasah, serta menjaga nama baik almamater.

  3. Menciptakan Lingkungan Positif – Mewujudkan madrasah yang aman, nyaman, ramah, inklusif, serta menjunjung tinggi nilai moderasi beragama, anti-bullying, dan menghargai harkat martabat kemanusiaan.

  4. Pengenalan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) – Memperkenalkan implementasi nilai cinta kepada Allah (hubullah), Rasulullah (hubburrasul), diri sendiri (hubbunafs), sesama (hubbunnas), lingkungan (hubbul biah), dan bangsa/negara (hubbul wathan wal bilad).

  5. Pembentukan Karakter – Menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab, mental mandiri berprestasi, serta membiasakan hidup bersih dan sehat.

Sebagai simbol dimulainya Matsama, dilakukan penyematan tanda peserta Matsama oleh Kepala Madrasah kepada perwakilan peserta didik baru.

Setelah upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) MAN 3 Majalengka kepada para peserta didik baru. Momen ini menjadi langkah awal untuk menjalin keakraban dan menumbuhkan rasa kekeluargaan di lingkungan madrasah.

Pelaksanaan Matsama MAN 3 Majalengka berlangsung selama 3 hari, mulai 14–16 Juli 2025, dengan berbagai kegiatan pengenalan madrasah, penguatan karakter, serta pembinaan wawasan kebangsaan dan moderasi beragama.

Dengan dibukanya Matsama ini, diharapkan peserta didik baru MAN 3 Majalengka mampu beradaptasi dengan lingkungan madrasah, membangun karakter unggul, serta menumbuhkan motivasi belajar dan semangat berprestasi di tahun ajaran yang baru.

(NM)

















 

Tuesday, May 20, 2025

Hari Kebangkitan Nasional, MAN 3 Majalengka Ajak Siswa Bangkit Menjawab Tantangan Zaman

 

Majalengka – Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117, MAN 3 Majalengka melaksanakan upacara bendera yang digelar di lapangan madrasah pada Selasa (20/5/2025). Upacara dimulai tepat pukul 07.00 WIB dan diikuti oleh seluruh civitas akademika, mulai dari kepala madrasah, tenaga pendidik dan kependidikan, hingga siswa-siswi kelas X dan XI.

Petugas upacara merupakan siswa-siswi dari organisasi OSIS MAN 3 Majalengka yang telah melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan kedisiplinan. Seluruh rangkaian upacara berlangsung secara tertib dan khidmat, mencerminkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air.

Bertindak sebagai pembina upacara, Nana Misnara, S.Pd.I, menyampaikan amanat Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia dalam rangka peringatan Harkitnas. Dalam pidatonya, beliau menegaskan bahwa Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan dan persatuan bangsa.

“Tepat di tanggal ini, kita tidak hanya memperingati sebuah tanggal dalam kalender, tetapi membuka kembali lembaran sejarah perjuangan bangsa yang dipenuhi semangat persatuan dan keberanian untuk menolak penjajahan,” ujar Nana dalam pidatonya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebangkitan bukanlah peristiwa yang selesai dalam satu masa, melainkan sebuah ikhtiar yang terus hidup dari generasi ke generasi. "Kebangkitan menuntut kita untuk berani menjawab tantangan zaman yang penuh ujian," tambahnya.

Upacara ini menjadi momen reflektif bagi seluruh warga MAN 3 Majalengka untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme serta memperkuat komitmen dalam membangun negeri melalui pendidikan dan karakter kebangsaan.

Kontributor : Nana Misnara 













Monday, May 19, 2025

Upacara Bendera di MAN 3 Majalengka: Pembina Sampaikan Amanat tentang Pentingnya Menghindari Bullying

Majalengka – Pada hari Senin, 19 Mei 2025, MAN 3 Majalengka melaksanakan upacara bendera rutin yang berlangsung dengan khidmat di lapangan madrasah. Upacara ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI, serta dihadiri oleh Kepala Madrasah, Kepala Urusan Tata Usaha, seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).

Sebagai petugas upacara, OSIS MAN 3 Majalengka menunjukkan kedisiplinan dan kekompakan yang patut diapresiasi. Bertindak sebagai pembina upacara, Bapak Sapi’i, S.Pd.I menyampaikan amanat yang penuh makna dan menyentuh hati.

Dalam amanatnya, beliau mengangkat filosofi dari sebuah titik hitam pada kertas putih. "Seringkali kita lebih fokus pada titik hitam kecil itu dibandingkan luasnya kertas putih yang bersih. Ini menggambarkan kecenderungan kita untuk melihat hal-hal yang negatif atau kekurangan orang lain, padahal masih banyak sisi positif yang layak diapresiasi," ujar Sapi’i.

Melalui perumpamaan tersebut, beliau mengajak seluruh siswa untuk menjauhi sikap suka menghakimi, mencela, apalagi melakukan perundungan (bullying). "Mari kita tanamkan sikap saling menghargai dan melihat sisi baik dari setiap orang," pesannya dengan penuh semangat.

Upacara ditutup dengan doa bersama, diiringi semangat para siswa untuk terus membangun lingkungan madrasah yang positif, inklusif, dan penuh empati.

Kontributor : Nana Misnara