Tuesday, August 11, 2026
Masa Peralihan
Thursday, August 6, 2026
Tembus Porseni Jabar, Siswa MAN 3 Majalengka Perkuat Tim Voli Kabupaten Majalengka
Jatiwangi (MANTIKA) — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan peserta didik MAN 3 Majalengka. Dera Rizky, siswa kelas XI-B, dipastikan lolos sebagai atlet cabang olahraga bola voli yang akan memperkuat kontingen Kabupaten Majalengka pada Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Madrasah tingkat Provinsi Jawa Barat.
Kepastian tersebut diperoleh setelah Dera berhasil melewati seleksi atlet yang diselenggarakan di MAN 1 Majalengka, Talaga, Kamis (6/8/2026). Seleksi itu mempertemukan atlet-atlet terbaik dari berbagai madrasah di Kabupaten Majalengka untuk memperebutkan kesempatan tampil pada ajang Porseni tingkat provinsi.
Keberhasilan Dera menjadi bukti bahwa pembinaan olahraga di MAN 3 Majalengka terus berjalan secara konsisten. Melalui latihan yang terprogram dan pendampingan yang berkelanjutan, madrasah berupaya mengembangkan potensi peserta didik agar mampu berprestasi di berbagai ajang kompetisi.
Pembina olahraga sekaligus pendamping atlet Porseni MAN 3 Majalengka, Siti Mutia Anggraeni, S.Pd., mengungkapkan rasa syukur atas hasil yang diraih anak didiknya. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan buah dari kesungguhan Dera dalam menjalani setiap proses latihan.
"Alhamdulillah, Dera mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya selama seleksi. Hasil ini merupakan buah dari latihan yang disiplin dan semangat yang terus dijaga. Semoga pada Porseni tingkat Provinsi Jawa Barat nanti ia dapat memberikan penampilan terbaik sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Majalengka," tuturnya.Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi penyemangat bagi peserta didik lainnya untuk terus mengembangkan bakat dan kemampuan sesuai bidang yang diminati. Madrasah, lanjutnya, akan terus memberikan ruang pembinaan agar semakin banyak siswa mampu bersaing pada tingkat yang lebih tinggi.
Setelah dinyatakan lolos, Dera akan mengikuti pemusatan latihan bersama kontingen Kabupaten Majalengka. Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan atlet menghadapi persaingan di tingkat provinsi, baik melalui penguatan teknik, peningkatan kondisi fisik, penyusunan strategi permainan, maupun pembentukan mental bertanding.
Keberhasilan ini menambah deretan prestasi nonakademik MAN 3 Majalengka sekaligus mempertegas komitmen madrasah dalam mendukung pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh. Selain mencetak lulusan yang unggul secara akademik, MAN 3 Majalengka juga terus mendorong lahirnya generasi yang berprestasi, sportif, dan mampu membawa nama baik madrasah pada berbagai ajang kompetisi.
Monday, July 20, 2026
Madrasah: Menanam Ilmu, Merawat Kemanusiaan
Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengingatkan bahwa krisis terbesar dunia pendidikan bukanlah kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab.
Kalimat itu terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan berbagai persoalan bangsa. Korupsi dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Penyebaran kebencian sering dilakukan oleh mereka yang menguasai teknologi. Kekerasan verbal di media sosial lahir dari tangan-tangan yang sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan.
Masalahnya ternyata bukan semata-mata kurangnya ilmu. Masalahnya adalah ilmu yang kehilangan arah moral.
Pemikiran Al-Attas seakan bertemu dengan pesan KH. Hasyim Asy'ari yang menempatkan adab sebelum ilmu. Ki Hadjar Dewantara juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi menuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup.
Gus Dur kemudian memperluas cakrawala itu. Bagi beliau, pendidikan harus memanusiakan manusia. Pendidikan harus melahirkan pribadi yang menghargai perbedaan, mencintai kemanusiaan, dan mampu hidup bersama dalam keberagaman. Sementara Gus Mus mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan kasih sayang akan berubah menjadi kesombongan.
Di sisi lain, Nurcholish Madjid mengajarkan bahwa menjadi religius tidak berarti menolak kemajuan. Agama dan modernitas tidak perlu dipertentangkan. Justru keduanya harus berjalan beriringan agar kemajuan tidak kehilangan arah, dan nilai-nilai agama tidak terjebak dalam romantisme masa lalu.
Jika direnungkan, gagasan para tokoh itu sesungguhnya bertemu pada satu titik yang sama. Pendidikan bukan hanya urusan mencerdaskan kepala. Pendidikan adalah ikhtiar mematangkan hati.
Karena itulah saya selalu percaya bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak anak yang menguasai sains, teknologi, atau bahasa asing.
Semua itu penting.
Tetapi bangsa ini juga membutuhkan generasi yang mampu menggunakan ilmunya untuk menghadirkan kemaslahatan.
Dalam tradisi Islam, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula amanahnya. Ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan bersama tanggung jawab. Madrasah, dalam pandangan saya, sedang berusaha merawat semangat itu.
Bukan untuk menjadikan lulusannya lebih hebat daripada lulusan sekolah umum. Bukan pula untuk menciptakan sekat antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Melainkan untuk mengingatkan bahwa keberhasilan dunia tidak pernah boleh dipisahkan dari tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama manusia.
Tulisan ini bukan ajakan agar semua orang memilih madrasah. Saya juga tidak sedang membandingkan madrasah dengan sekolah umum seolah keduanya saling berhadapan. Keduanya merupakan bagian penting dari sistem pendidikan nasional.
Keduanya memiliki peran yang sama mulia. Namun saya ingin mengajak kita mengubah satu cara pandang. Barangkali yang perlu kita kejar bukanlah sekolah yang paling bergengsi. Melainkan sekolah yang paling mampu membantu anak-anak kita bertumbuh menjadi manusia seutuhnya.
Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Dunia membutuhkan orang-orang cerdas yang tetap memiliki hati. Kita mungkin tidak sedang kekurangan sekolah. Kita juga tidak sedang kekurangan kurikulum, gedung baru, ataupun teknologi pembelajaran. Yang mulai langka justru adalah kesadaran bahwa pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan jalan menuju kedewasaan sebagai manusia.
Sebagai guru, saya percaya ilmu akan terus berkembang mengikuti zaman. Teknologi akan terus berubah. Cara belajar pun akan selalu menemukan bentuk-bentuk baru. Namun ada satu hal yang saya yakini tidak akan pernah usang yaitu Adab.
Sebab ilmu dapat mengantarkan seseorang menuju keberhasilan. Tetapi adablah yang menentukan apakah keberhasilan itu akan membawa manfaat atau justru menghadirkan kerusakan.
Dan jika pendidikan masih ingin disebut sebagai ikhtiar memanusiakan manusia, maka tugas terbesarnya bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas, melainkan generasi yang mengetahui untuk apa kecerdasannya digunakan.
Mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar prestasi, kita perlu kembali mengingat satu hal yang paling sederhana. Bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah melahirkan manusia yang paling pandai. Melainkan melahirkan manusia yang, karena ilmunya, menjadi semakin rendah hati; yang, karena pengetahuannya, semakin bermanfaat; dan yang, karena adabnya, mampu menjaga martabat dirinya sekaligus memuliakan orang lain.
Di situlah, saya percaya, peradaban yang baik selalu bermula.
*Firman Saefatullah, M. Pd (Guru MAN 3 Majalengka)
Dari Gerbang Madrasah, Kebaikan Itu Dimulai: Kehangatan Nurusshabah Menguatkan Langkah Siswa MAN 3 Majalengka
Matahari perlahan mengusir dinginnya embun yang masih menggantung di dedaunan. Satu per satu siswa datang dengan wajah yang masih menyimpan kantuk, lalu berubah menjadi senyum ketika disambut salam dari bapak dan ibu guru. Tidak ada sekat antara pendidik dan peserta didik. Yang hadir adalah kehangatan, rasa hormat, dan kebersamaan yang tumbuh dari perjumpaan sederhana di awal hari.
Di depan gerbang madrasah, para guru berdiri berbaris dengan wajah ramah. Setiap siswa disambut dengan budaya 3S—Salam, Senyum, dan Santun. Jabat tangan yang terulur bukan sekadar kebiasaan rutin, melainkan doa yang diam-diam dipanjatkan agar hari itu menjadi awal yang baik bagi setiap anak yang sedang menapaki jalan menuntut ilmu.
Suasana itulah yang menjadi ruh Program Nurusshabah, sebuah pembiasaan yang diyakini mampu menghadirkan energi positif sebelum proses pembelajaran dimulai. Bagi MAN 3 Majalengka, menyambut siswa bukan hanya tentang menerima kedatangan mereka, tetapi juga memastikan setiap anak merasa diterima, dihargai, dan dicintai.
Tidak sedikit siswa yang tampak menundukkan kepala penuh hormat saat menyalami guru. Sebagian lainnya menyapa dengan wajah ceria. Momen yang hanya berlangsung beberapa detik itu justru menyimpan makna yang panjang. Di sanalah karakter dibangun, bukan melalui nasihat yang panjang, melainkan melalui keteladanan yang setiap hari mereka saksikan.
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Sapi'i, S.Pd., mengatakan bahwa Nuurusshabah merupakan bagian dari pembiasaan karakter yang terus ditanamkan kepada seluruh peserta didik.
"Kami ingin anak-anak memulai hari dengan hati yang bahagia. Ketika mereka merasa diterima dan dihargai, semangat belajar akan tumbuh dengan sendirinya," ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari suasana yang mampu menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan saling menghargai. Karena itulah, setiap pagi menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut melalui tindakan nyata.
Guru Al-Qur'an Hadis, Subhanuddin, M.Si., menambahkan bahwa budaya memberi salam merupakan ajaran Islam yang memiliki kekuatan membangun hubungan antarmanusia.
"Salam adalah doa. Dari salam lahir rasa persaudaraan, saling menghormati, dan kepedulian. Jika itu menjadi kebiasaan, insyaallah madrasah akan dipenuhi keberkahan," tuturnya.
Apa yang dilakukan para guru ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi peserta didik. Ali Rahman Tsani, siswa kelas XI, mengaku penyambutan tersebut membuatnya lebih bersemangat menjalani aktivitas belajar.
"Kami merasa diperhatikan. Hal sederhana seperti ini membuat kami datang ke kelas dengan perasaan senang dan lebih siap belajar," ungkapnya.
Di balik gerbang itu, orang tua yang mengantar anak-anaknya pun dapat menyaksikan bagaimana pendidikan dijalankan dengan sentuhan kemanusiaan. Mereka melihat bahwa madrasah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kasih sayang, penghormatan, dan akhlakul karimah melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari.
Program Nuurusshabah menjadi bukti bahwa membangun karakter tidak selalu membutuhkan langkah besar. Justru dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, tumbuh pribadi-pribadi yang menghargai sesama, mencintai gurunya, dan siap menghormati siapa pun yang mereka temui dalam kehidupan.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, MAN 3 Majalengka memilih untuk tidak kehilangan makna dari sebuah perjumpaan. Madrasah ini percaya bahwa pendidikan terbaik lahir ketika ilmu berjalan berdampingan dengan keteladanan, dan kecerdasan tumbuh bersama kelembutan hati.
Karena sejatinya, masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh anak-anak yang cerdas, tetapi juga oleh generasi yang terbiasa menebarkan salam, menghadirkan senyum, serta menghormati setiap orang yang dijumpainya. Dan semua itu, bisa dimulai dari satu gerbang madrasah pada setiap pagi yang penuh harapan.
Kontributor: Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)
Ikrar yang Menguatkan Langkah, Upacara Bendera di MAN 3 Majalengka Teguhkan Disiplin dan Karakter Pelajar
Jatiwangi (MAN 3 Majalengka) — Mentari pagi baru mulai meninggi ketika ratusan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka memasuki lapangan upacara, Senin (20/7/2026). Berbalut seragam yang rapi, mereka berdiri membentuk barisan-barisan yang tertata. Di hadapan Sang Merah Putih, seluruh warga madrasah larut dalam suasana yang hening dan penuh khidmat, menandai dimulainya upacara bendera sebagai pembuka aktivitas pembelajaran di awal pekan.
Lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya menggema mengiringi pengibaran bendera. Sesaat kemudian, suasana berubah semakin syahdu ketika seluruh peserta mengheningkan cipta. Tidak ada percakapan yang terdengar. Yang tampak hanyalah wajah-wajah penuh kesungguhan, mencerminkan penghormatan terhadap jasa para pahlawan sekaligus tekad untuk menjadi generasi penerus yang bertanggung jawab.
Momentum tersebut menjadi semakin bermakna ketika Nunung Nuraisyah, S.Pd., yang bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan amanat kepada seluruh peserta. Ia mengajak para siswa untuk tidak sekadar datang ke madrasah demi memenuhi kewajiban, tetapi menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk belajar, berproses, dan membalas perjuangan orang tua dengan prestasi serta akhlak yang baik.
"Ikrar yang kalian ucapkan hari ini adalah komitmen untuk belajar sungguh-sungguh, disiplin, dan menjaga nama baik madrasah. Wujudkan juga dengan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, karena madrasah yang bersih mencerminkan karakter pelajarnya," pesannya.
Amanat tersebut seolah menemukan puncaknya ketika seluruh siswa bersama-sama mengucapkan Ikrar Pelajar. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, mereka meneguhkan janji untuk belajar dengan sungguh-sungguh, menaati tata tertib, menghormati guru dan orang tua, serta menjaga martabat sebagai pelajar madrasah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan serempak menggema di lapangan, menjadi pengingat bahwa setiap hak selalu diiringi dengan tanggung jawab.
Bagi MAN 3 Majalengka, pembacaan Ikrar Pelajar bukan sekadar pelengkap rangkaian upacara. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembiasaan karakter yang terus ditanamkan agar nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian tumbuh menjadi budaya di lingkungan madrasah.
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Sapi'i, S.Pd., mengatakan bahwa karakter peserta didik dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya melalui penyampaian teori di dalam kelas.
"Kami ingin siswa membiasakan hal-hal baik setiap hari. Disiplin, menghormati guru, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab merupakan bagian dari karakter yang harus tumbuh dalam diri setiap peserta didik," ujarnya.
Menurutnya, pembiasaan seperti upacara bendera dan pembacaan Ikrar Pelajar menjadi media efektif untuk mengingatkan kembali tujuan utama siswa datang ke madrasah, yakni menuntut ilmu sekaligus membentuk akhlak yang mulia.
Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan karakter menjadi fondasi penting dalam setiap program pembinaan di madrasah. Prestasi akademik, menurutnya, harus berjalan seiring dengan pembentukan pribadi yang jujur, disiplin, religius, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui upacara bendera yang berlangsung penuh khidmat itu, MAN 3 Majalengka kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan intelektual, tetapi juga membangun karakter. Dari lapangan upacara, nilai-nilai kedisiplinan, cinta tanah air, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kebersihan kembali ditanamkan sebagai bekal bagi para pelajar dalam menjalani kehidupan, baik di lingkungan madrasah maupun di tengah masyarakat.
Kontributor: Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)
Menjemput Bayang Ka'bah di Lapangan Basket: Kisah "Penjaga" Arah Kiblat MAN 3 Majalengka
Rabu sore itu, 28 Mei 2026, jarum jam baru saja menyentuh pukul 16.27 WIB. Di bawah langit Jatiwangi yang perlahan melunak, Lapangan Basket MAN 3 Majalengka tidak sedang riuh oleh pantulan bola atau derap sepatu olahraga. Suasananya hening, namun sarat akan antusiasme. Ratusan pasang mata tertuju pada sebatang tongkat dan bayangan yang memanjang di atas semen kelabu.
Sore itu bukan sore biasa. Melalui fenomena astronomi Rashdul Kiblat, matahari sedang berada tepat di atas Ka’bah di Makkah. Sebuah peristiwa semesta yang melintasi ruang dan waktu, menghubungkan sebuah lapangan sekolah di Majalengka langsung dengan kiblat umat Islam di belahan bumi lain.
Bagi civitas akademika MAN 3 Majalengka, momen ini bukan sekadar rutinitas kalender astronomi yang usai begitu matahari terbenam. Ini adalah ikhtiar abadi untuk menyempurnakan sujud.
Menyatukan Sains dan Ketaatan
Lapangan basket tersebut memiliki detak nadi yang vital bagi madrasah. Di sana, keringat dilepaskan saat berolahraga, upacara bendera digelar, dan di sana pula sajadah-sajadah digelar ketika seluruh warga madrasah melaksanakan ibadah bersama di area terbuka. Memastikan ke mana wajah harus dihadapkan di lapangan ini menjadi sebuah misi spiritual yang mendesak.
Di sela-sela kesibukan mengamati pergerakan bayangan, Wakil Kepala Madrasah Bidang Hubungan Masyarakat sekaligus anggota Tim Rashdul Kiblat MAN 3 Majalengka, Nana Misnara, S.Pd.I., memandang lurus ke arah garis yang baru saja ditarik. Ada gurat kelegaan di wajahnya.
"Pengukuran ini sangat penting untuk menjadi rujukan utama ke arah mana kita menghadap saat melaksanakan shalat. Dengan arah kiblat yang telah dipastikan kebenarannya, diharapkan ibadah yang kita jalankan dapat terlaksana dengan lebih sempurna sesuai tuntunan syariat Islam," ujar Nana, suaranya terdengar mantap di antara desir angin sore.
Metode ini membuktikan sebuah narasi yang tak akan pernah usang oleh zaman: bahwa sains dan agama tidak pernah berjalan saling memunggungi. Astronomi hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari penciptanya, melainkan menjadi jembatan ilmiah yang memandu jalannya syariat agar tegak dengan presisi.
Riak Kecil yang Menjadi Gelombang Nasional
Ketika sebatang tongkat diletakkan tegak lurus, matahari menuliskan jawabannya lewat bayangan. Garis lurus berhasil ditarik. Kini, Lapangan Basket MAN 3 Majalengka telah memiliki patokan standar arah kiblat yang sahih, sebuah warisan akurasi yang akan terus digunakan oleh generasi-generasi siswa di tahun-tahun mendatang.
Namun, gerakan ini tidak berhenti di dalam pagar madrasah. Kesadaran untuk meluruskan shalat ini merembet ke rumah-rumah. Sore itu, para siswa, guru, dan staf pulang dengan membawa misi baru: memeriksa arah kiblat di ruang tamu, kamar, dan mushola rumah mereka sendiri.
Tercatat, ada 351 akun warga MAN 3 Majalengka yang antusias melaporkan hasil pengukuran mandiri mereka. Angka kecil ini merupakan bagian dari gelombang besar yang bergerak di seluruh penjuru negeri. Bersama mereka, ada 1.448.000 akun dari Sabang sampai Merauke yang ikut serta dalam gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Warisan Keyakinan untuk Masa Depan
Waktu akan terus berjalan, tahun-tahun akan berganti, dan para siswa yang sore itu menyaksikan jalannya pengukuran mungkin akan segera lulus. Namun, garis kiblat yang digoreskan di atas lapangan basket Jatiwangi itu akan tetap di sana.
Lebih dari sekadar garis, kegiatan ini meninggalkan warisan literasi yang berharga bagi masyarakat sekitar. Sebuah edukasi sederhana namun mendalam bahwa memverifikasi arah kiblat dapat dilakukan secara mandiri, ilmiah, dan mudah.
Melalui peristiwa Rashdul Kiblat ini, MAN 3 Majalengka tidak hanya berhasil meluruskan shalat di atas lapangan beton, tetapi juga telah menanamkan keyakinan yang kokoh di dalam dada setiap warganya—sebuah keyakinan yang tak akan pernah usang dimakan zaman, bahwa dalam setiap sujud, mereka kini menghadap ke arah yang benar.
Kontributor : Firman Saefatullah, M. Pd
Saturday, July 18, 2026
Cek Kesehatan Gratis, MAN 3 Majalengka Pastikan Murid Baru Siap Belajar
JATIWANGI (MAN 3 Majalengka) — Tim Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Palang Merah Remaja (PMR) MAN 3 Majalengka menggelar Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi seluruh siswa baru Tahun Ajaran 2026/2027, Kamis (16/7/2026), di Aula Indoor MAN 3 Majalengka.
Kegiatan ini bertujuan mengetahui kondisi kesehatan siswa sejak awal masuk madrasah. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar untuk memberikan edukasi dan pendampingan agar siswa dapat belajar dengan sehat dan nyaman.
Pemeriksaan dilakukan melalui empat tahap, yaitu registrasi, pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah serta tanda-tanda vital, lalu dilanjutkan dengan konsultasi kesehatan. Seluruh peserta mengikuti pemeriksaan secara bergiliran sesuai jadwal kelas.
Pembina UKS dan PMR, Rosyidatul Awaliyah, S.Pd., mengatakan pemeriksaan kesehatan penting dilakukan sejak awal agar kondisi siswa dapat diketahui lebih cepat.
"Melalui pemeriksaan ini kami bisa mengetahui kondisi kesehatan dasar siswa. Jika ditemukan hal yang perlu diperhatikan, kami dapat memberikan edukasi dan menyarankan pemeriksaan lanjutan. Harapannya, siswa semakin terbiasa menerapkan pola hidup bersih dan sehat," ujarnya.
Sementara itu, Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., menegaskan bahwa kesehatan menjadi modal utama bagi peserta didik untuk meraih prestasi.
"Siswa yang sehat akan lebih siap mengikuti pembelajaran. Karena itu, kami ingin memastikan kondisi mereka sejak awal masuk madrasah," katanya.
Hasil pemeriksaan menunjukkan sebagian besar siswa berada dalam kondisi sehat. Namun, tim UKS juga menemukan beberapa siswa dengan tekanan darah yang perlu dipantau, status gizi kurang atau berlebih, serta indikasi anemia ringan pada beberapa siswi. Mereka mendapat edukasi tentang pentingnya makan bergizi, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga.
Bagi siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, tim UKS memberikan konseling dan menyarankan pemeriksaan lanjutan di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
Melalui kegiatan ini, MAN 3 Majalengka ingin membiasakan siswa peduli terhadap kesehatan sejak dini. Dengan tubuh yang sehat, mereka diharapkan dapat belajar lebih optimal, berprestasi, dan tumbuh menjadi generasi yang kuat, cerdas, dan berkarakter.
Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)
Awali dengan Bismillah Agar Aktifitas Kita Berkah, Nasihat Khotib Jum'at di Masjid Al Azfar MAN 3 Majalengka
Jatiwangi (MAN 3 Majalengka) — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al Azfar MAN 3 Majalengka saat murid, guru, dan tenaga kependidikan melaksanakan Shalat Jumat, Jumat (17/7/2026). Kegiatan rutin pembinaan keagamaan ini diikuti seluruh jamaah dengan tertib.
Khutbah disampaikan oleh Guru Akidah Akhlak MAN 3 Majalengka, Ust. Solehudin, S.Pd. Ia mengajak jamaah membiasakan mengawali setiap aktivitas dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim sebagai bentuk tawakal kepada Allah Swt. sekaligus harapan agar setiap pekerjaan mendapat keberkahan.
"Basmalah bukan sekadar ucapan pembuka, tetapi wujud penyerahan diri kepada Allah. Dengan memulainya atas nama Allah, setiap aktivitas dapat bernilai ibadah dan membawa manfaat," ujarnya.
Pesan yang disampaikan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jamaah pun menyimak khutbah dengan tenang dan penuh perhatian hingga rangkaian ibadah selesai.
Usai salat, Pembina Keagamaan MAN 3 Majalengka, Jali Rojali, S.Pd.I., mengatakan bahwa Shalat Jumat menjadi bagian dari pembinaan karakter religius di madrasah.
"Shalat Jumat bukan hanya memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga membentuk karakter. Kami berharap nilai-nilai religius yang dibiasakan di madrasah dapat terus diterapkan di keluarga dan masyarakat," katanya.
Melalui pembiasaan ibadah secara rutin, MAN 3 Majalengka terus berupaya menyeimbangkan penguatan akademik dan pembinaan karakter agar lahir generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.
Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)
Tuesday, July 14, 2026
Terbangkan Pesawat Harapan Tandai Pembukaan MATAMUDA 2026 MAN 3 Majalengka
Jatiwangi-MAN 3 MAJALENGKA. Hj. Ela Nurlaela, M. Pd., Kepala MAN 3 Majalengka resmi membuka Masa Ta'aruf Murid Baru (MATAMUDA) 2026 pada hari senin tanggal 13 Juli 2026 dengan secara bersama-sama dengan semua peserta menerbangkan pesawat harapan ke arah langit.
Dalam amanahnya Hj Ela Nurlaela menerangkan bahwa penerbangan pesawat kertas yang ditulisi harapan menjadi simbol di sematkannya harapan-harapan yang baik sebagai tujuan para murid baru mengenyam pendidikan di MAN 3 Majalengka. Pesawat yang melaju ke arah atas menunjukkan harus adanya progress yang meningkat dari sebelum belajar di MAN.
Kita sudah ditakdirkan untuk bersama di sini, di MAN 3 Majalengka. oleh karenanya kita harus fokus dan tidak lagi menoleh ke kanan dan ke kiri. Fokus para murid dalam belajar akan menentukan hasil dari proses yang di jalani selama di Madrasah. Kalau fokus dan tidak ragu, insyaallah akan sukses. terang Hj. ela Nurlaela.
Giat MATAMUDA akan di gelar selama 3 hari bertempat di lingkungan MAN 3 Majalengka. Sebagai wahana pengenalan lingkungan belajar di madrasah, murid baru akan diperkenalkan ke semua sarana dan prasarana yang ada di madrasah. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah para murid baru beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang baru.
Selama MATAMUDA para murid baru akan diperkenalkan pada semua warga madrasah. Terutama pada tenaga pendidik atau guru yang akan mengajar dan membimbing selama di madrasah, juga akan diperkenalkan pada tenaga kependidikan yang akan membantu dan memfasilitasi dukungan kegiatan pembelajaran.
Pemaparan materi sebagai bentuk ikhtiar mempermudah pemahaman dan adapatasi peserta MATAMUDA akan di sampaikan oleh beberapa narasumber yang terdiri dari Guru, Pembina Ekstrakulikuler dan Profesional yang ahli dibidangnya.
Materi yang akan dipaparkan antara lain Pencegahan ekstrimisme dan narkoba oleh kepolisian, Bela negara oleh Tentara, Bimbingan usia remaja sekolah oleh psikolog, Nilai-nilai kemadrasahan oleh kepala madrasah, dan materi-materi yang disampaikan oleh wakil kepala madrasah dan pembina ekstrakulikuler.
Thursday, July 2, 2026
Kemenag Gelar Sosialisasi Juknis MATAMUDA TP 2026/2027 Hari Ini Lewat YouTube
Thursday, June 11, 2026
Sanitasi di Lingkungan Madrasah sebagai Pilar Pendidikan Sehat
Sanitasi merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan produktif. Di madrasah, sanitasi tidak hanya berkaitan dengan kebersihan fisik, tetapi juga mencerminkan kepedulian terhadap kesehatan, disiplin, dan tanggung jawab sosial. Dengan penerapan sanitasi yang baik, madrasah dapat menjadi tempat yang mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal, baik dari sisi akademik maupun karakter. Sanitasi sebagai Budaya Madrasah
Madrasah adalah ruang belajar sekaligus rumah kedua bagi siswa. Lingkungan
yang bersih dan sehat akan meningkatkan konsentrasi, mencegah penyakit, serta
menumbuhkan rasa nyaman. Ketika sanitasi dijadikan budaya, siswa belajar bahwa
menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari ibadah dan
rasa syukur atas nikmat fasilitas yang diberikan. Misalnya, mencuci tangan
sebelum makan atau menjaga kebersihan toilet dapat dikaitkan dengan nilai
disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Integrasi
Sanitasi dalam Kurikulum
Sanitasi dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum berwawasan lingkungan
hidup. Beberapa contoh penerapannya adalah:
IPA/Informatika
Siswa
mempelajari dampak buruk sanitasi yang tidak terjaga terhadap kesehatan dan
membuat aplikasi sederhana untuk monitoring kebersihan.
Bahasa Indonesia
Siswa
menulis artikel atau puisi tentang pentingnya menjaga sanitasi di sekolah.
Pendidikan Agama Islam
Guru menekankan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, sehingga menjaga
sanitasi madrasah berarti menjaga amanah Allah.
Dengan cara ini, sanitasi tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga bagian
dari pembelajaran holistik yang menanamkan nilai ekologis dan spiritual.
Praktik Nyata
Sanitasi di Madrasah
Beberapa langkah
praktis yang dapat dilakukan madrasah untuk meningkatkan sanitasi antara lain:
Program Cuci Tangan Bersama
Menyediakan fasilitas wastafel dengan
sabun di area strategis dan membiasakan siswa mencuci tangan sebelum dan
sesudah kegiatan.
Perawatan Toilet dan Kamar Mandi
Memastikan fasilitas sanitasi selalu
bersih, tersedia air, dan tidak menimbulkan bau.
Pengelolaan Sampah
Menyediakan tempat sampah terpilah dan
mengajarkan siswa cara membuang sampah sesuai jenisnya.
Inspeksi Sanitasi Rutin
Guru dan siswa bersama-sama melakukan
pengecekan kebersihan kelas, kantin, dan lingkungan sekolah.
Green Class Competition
Lomba antar kelas dalam menjaga
kebersihan dan sanitasi ruang belajar.
Dampak Positif Sanitasi
Penerapan
sanitasi yang baik di madrasah memberikan dampak luas
Kesehatan Mencegah
penyakit menular seperti diare, flu, dan infeksi kulit.
Karakter Menumbuhkan
disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Spiritualitas Kebersihan
dipahami sebagai bagian dari iman dan ibadah.
Ekologi Siswa
terbiasa menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih dan sehat.
Sanitasi di lingkungan madrasah bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari pendidikan holistik yang mengintegrasikan ilmu, sikap, dan nilai spiritual. Dengan menjadikan sanitasi sebagai budaya dan praktik nyata, madrasah dapat mencetak generasi yang sehat, berkarakter, dan cinta lingkungan. Inilah wujud nyata kurikulum berwawasan lingkungan hidup yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan cinta dan tanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama.
Wednesday, June 10, 2026
Kebersihan di Lingkungan Madrasah sebagai Penerapan Kurikulum Berwawasan Lingkungan Hidup
Kebersihan merupakan salah satu aspek fundamental dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan produktif. Di madrasah, kebersihan tidak hanya dipandang sebagai rutinitas fisik, tetapi juga sebagai wujud nyata penerapan kurikulum berwawasan lingkungan hidup. Kurikulum ini menekankan pentingnya kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, serta nilai spiritual dalam menjaga alam sebagai amanah Allah. Dengan demikian, kebersihan madrasah menjadi bagian integral dari pendidikan karakter dan pembentukan budaya cinta lingkungan.
Kebersihan sebagai Budaya Madrasah
Madrasah adalah tempat siswa belajar,
berinteraksi, dan membentuk kepribadian. Lingkungan yang bersih akan mendukung
konsentrasi, kesehatan, dan kenyamanan siswa. Ketika kebersihan dijadikan
budaya, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban,
melainkan bagian dari ibadah. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya dapat
dikaitkan dengan nilai disiplin dan tanggung jawab, sementara menjaga
kebersihan kelas mencerminkan rasa syukur atas nikmat fasilitas yang diberikan.
Integrasi dalam Kurikulum Berwawasan Lingkungan
Kurikulum berwawasan lingkungan hidup menekankan keterkaitan antara ilmu
pengetahuan, sikap, dan tindakan nyata. Kebersihan madrasah dapat
diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran:
IPA/Informatika
Siswa diajak memahami dampak sampah plastik terhadap ekosistem dan membuat
solusi digital sederhana untuk monitoring kebersihan.
Bahasa Indonesia
Siswa menulis cerita atau puisi tentang pentingnya menjaga kebersihan
lingkungan Madrasah.
Pendidikan Agama Islam
Guru menekankan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, sehingga menjaga
madrasah berarti menjaga amanah Allah.
Dengan cara ini, kebersihan tidak hanya menjadi aktivitas rutin, tetapi
juga bagian dari proses pembelajaran holistik.
Praktik Nyata di Madrasah
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan madrasah untuk menerapkan
kebersihan sebagai bagian dari kurikulum berwawasan lingkungan hidup antara
lain:
Program Jumat Bersih
Seluruh warga madrasah bergotong royong membersihkan kelas, halaman, dan
taman.
Bank Sampah Madrasah
Siswa diajak memilah sampah organik dan anorganik, kemudian mengelolanya
untuk daur ulang atau kompos.
Green Class Competition
Lomba antar kelas dalam menjaga kebersihan dan keindahan ruang belajar.
Mindful Walking 54321
Siswa berjalan di sekitar madrasah sambil mengaktifkan pancaindra,
merasakan kedekatan dengan alam, dan menuliskan refleksi tentang kebersihan
lingkungan.
Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan praktis, tetapi juga
menumbuhkan kesadaran ekologis dan spiritual.
Dampak Positif
Penerapan kebersihan di madrasah sebagai bagian
dari kurikulum berwawasan lingkungan hidup memberikan dampak positif yang luas:
Kesehatan, lingkungan bersih mengurangi risiko
penyakit menular.
Karakter, siswa terbiasa disiplin, bertanggung
jawab, dan peduli terhadap sesama.
Spiritualitas, kebersihan dipahami sebagai bagian
dari iman dan ibadah.
Ekologi, siswa menjadi agen perubahan dalam
menjaga kelestarian lingkungan sekitar.
Kebersihan di lingkungan madrasah bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari pendidikan holistik yang mengintegrasikan ilmu, sikap, dan nilai spiritual. Dengan menjadikan kebersihan sebagai budaya dan praktik nyata, madrasah dapat mencetak generasi yang sehat, berkarakter, dan cinta lingkungan. Inilah wujud nyata kurikulum berwawasan lingkungan hidup yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan cinta dan tanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama.
Thursday, May 21, 2026
Lentingkan Prestasi, Jurnalistik MAN 3 Majalengka Raih 3 Juara Harapan di Event Lomba Nasional
Jatiwangi, Kamis, 21/05/26. Untuk kesekian kalinya ekstrakulikuler Jurnalistik MAN 3 Majalengka kembali mendulang prestasi. Kali ini tidak tanggung-tanggung mereka mendapatkan prestasi di event lomba video tiktok tingkat Nasional yang diselenggarakan 2 institusi kredibel.
Prestasi gemilang yang diraih ekstra kulikuler jurnalistik berturut-turut adalah harapan I di tiga kategori lomba Video Pelajar yang sama-sama dilaksanakan di tingkat Nasional, 1 kategori di The Olympus Champion Bali dan 2 kategori di Global House.
Selaku Pembina Esktrakulikuler Jurnaslitik, Firman Saefatullah memberikan apresiasi untuk para siswa yang mengikuti ajang bergengsi nasional ini. Lomba ini menjadi ajang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak-anak.
Lomba ini memantik potensi yang dimiliki oleh anak-anak ekstrakulikuler jurnalsitik, potensi mereka semakin terasah dan terahkan pada kegiatan yang menuntut daya kreatif dan optimalisasi karya. Karena dengan lomba ini mereka terus belajar dan berlatih dengan membuat karya-karya yang dapat mengharumkan nama madrasah. terang Firman.
Nasya Sintia Dewi, ketua ekstrakulikuler jurnalitik mengungkapkan kegembiraanya atas prestasi yang di raih oleh eskul yang dipimpinnya. Kesungguhan yang terus menerus menjadi spirit dalam membuat karya akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan, kita memang tidak masuk menjadi juara utama tapi pencapaian ini bisa membuktikan bahwa kita mampu berperan dalam mengharukan nama madrasah, ungkapnya.
Lomba ini diikuti oleh anggota ekstrakulikuler jurnaslitik yang di bagi kedalam tiga kategori lomba, pertama lomba video kuliner lokal diikuti oleh Nasya Sintia Dewi kelas XI E dan Fadlan Maulana Dzikry kelas XI A.
Kedua kategori video tempat menarik di daerahku diikuti oleh Ali Rahman Tsani kelas X A, Satria Agung Nursahid kelas XI B, Jauza Desfira Khumairah kelas XI F dan Radyana Nuraulida Sopian Kelas Xi F.
Ketiga, Kategori Potret Positif Sekolahku diikuti oleh Desifa rahmawati kelas XA, Dewi Sita Apriliando kelas XA, Tiara Zulfaa Nurcahya Kelas XA, Nazril Rizq Nefriady Chaniago kelas XA dan Sidiq Firmansyah Kelas XI B.
Hj. Ela Nurlela, M. Pd, Kepala MAN 3 Majalengka turut mengapresiasi prestasi yang terus diukir oleh semua ekstrakulikuler yang ada di madrasah. Keberhasilan dalam mengikuti perlombaan itu bukan sesuatu yang instan, semua harus dipersiapkan dan ditreatmen dengan baik.
Hari ini prestasi kembali dipersembahkan oleh ekstrakulikuler Jurnalistik. Ibu merasa bangga dan meminta kepada semuanya untuk terus berkarya, jangan patah semangat dan jangan lupa bahagia, pungkas Hj. Ela.
Monday, May 11, 2026
Hemat Energi = Cinta Lingkungan
Menghemat energi bukan sekadar mengurangi tagihan listrik, tetapi merupakan wujud nyata cinta kita kepada bumi. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan. Mematikan lampu saat tidak diperlukan, mencabut colokan setelah digunakan, menggunakan lampu LED, atau mengatur suhu AC dengan bijak adalah bentuk kasih sayang terhadap lingkungan.
Bayangkan anak-anak
memeluk bumi berbentuk hati. Itulah simbol sederhana yang menggambarkan bahwa
bumi adalah sahabat yang harus kita jaga. Dengan hemat energi, kita sedang
memeluk bumi, melindunginya dari kerusakan, dan memastikan ia tetap tersenyum
untuk generasi mendatang.
Energi yang kita gunakan
sebagian besar masih berasal dari sumber daya alam yang terbatas dan
menghasilkan emisi karbon. Jika kita boros, maka semakin besar pula dampak
negatif terhadap iklim dan lingkungan. Sebaliknya, dengan hemat energi, kita
membantu mengurangi polusi udara, menjaga kualitas lingkungan, dan memperlambat
laju pemanasan global.
Madrasah sebagai tempat
belajar bisa menjadi teladan. Panel surya di atap, turbin angin kecil di
halaman, atau sekadar kebiasaan mematikan perangkat elektronik saat tidak
digunakan adalah langkah nyata menuju masa depan hijau. Guru, siswa, dan staf
dapat bersama-sama membangun budaya hemat energi sebagai bagian dari pendidikan
karakter dan cinta lingkungan.
Mari jadikan slogan “Hemat
Energi = Cinta Lingkungan” bukan hanya kata-kata, tetapi tindakan
sehari-hari. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, kita bisa menjaga
bumi tetap sehat, indah, dan layak huni.
Hemat energi hari ini,
selamatkan bumi untuk generasi esok.
Atur AC di 24–26°C – Nyaman Tanpa Boros Energi
Air conditioner (AC) adalah salah satu perangkat yang paling banyak digunakan di madrasah maupun rumah untuk menciptakan suasana sejuk dan nyaman. Namun, penggunaan AC yang tidak bijak sering kali menjadi penyebab utama pemborosan energi. Menyetel suhu terlalu rendah, misalnya di bawah 20°C, memang terasa dingin, tetapi sebenarnya tidak diperlukan dan justru membuat konsumsi listrik melonjak.
Suhu ideal untuk
kenyamanan sekaligus efisiensi energi adalah 24–26°C. Pada rentang suhu ini,
ruangan tetap terasa sejuk, tubuh tidak mengalami perbedaan suhu ekstrem, dan
listrik yang digunakan lebih hemat. Selain itu, pengaturan suhu yang tepat
membantu menjaga kesehatan, karena udara yang terlalu dingin bisa menyebabkan
masalah pernapasan atau penurunan daya tahan tubuh.
Selain pengaturan suhu,
perawatan AC juga sangat penting. Membersihkan filter secara rutin akan membuat
AC bekerja lebih efisien, mengurangi beban listrik, dan menjaga kualitas udara
tetap sehat. AC yang kotor memerlukan daya lebih besar untuk menghasilkan suhu
yang sama, sehingga boros energi dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
Mari jadikan kebiasaan
mengatur suhu AC di 24–26°C sebagai bagian dari budaya hemat energi di madrasah.
Guru dan siswa dapat saling mengingatkan, sementara petugas piket bisa
memastikan AC dimatikan setelah jam pelajaran selesai. Dengan langkah kecil
ini, kita tidak hanya menghemat listrik, tetapi juga turut menjaga bumi dari
dampak pemanasan global.
Nyaman bukan berarti
boros—atur suhu dengan bijak, sejukkan bumi dengan cinta.
Gunakan Lampu LED – Terang Hemat dan Tahan Lama
Lampu adalah salah satu kebutuhan utama di madrasah maupun rumah. Tanpa pencahayaan yang baik, kegiatan belajar dan bekerja tentu akan terganggu. Namun, pilihan jenis lampu yang kita gunakan sangat menentukan seberapa besar energi yang terpakai. Lampu pijar tradisional memang murah saat dibeli, tetapi boros listrik dan cepat rusak. Sebaliknya, lampu LED hadir sebagai solusi cerdas: terang, hemat, dan tahan lama.
Lampu LED mampu menghemat
energi hingga 80% dibandingkan lampu pijar. Artinya, dengan cahaya yang sama
terang, listrik yang digunakan jauh lebih sedikit. Selain itu, LED memiliki
umur pakai lebih panjang, bisa mencapai puluhan ribu jam. Dengan demikian, madrasah tidak perlu sering mengganti lampu, sehingga biaya perawatan juga berkurang.
Keunggulan lain dari LED
adalah ramah lingkungan. Lampu ini tidak mengandung merkuri atau bahan
berbahaya, sehingga lebih aman bagi kesehatan. Cahaya yang dihasilkan pun lebih
stabil, tidak berkedip, dan nyaman untuk mata. Hal ini sangat penting bagi siswa
yang belajar berjam-jam di kelas.
Mari kita jadikan gerakan
“Gunakan Lampu LED” sebagai bagian dari budaya hemat energi di madrasah. Setiap
ruang kelas, laboratorium, dan kantor bisa beralih ke LED secara bertahap. Guru
dan siswa dapat ikut mengkampanyekan manfaat LED melalui poster, mading, atau
media sosial madrasah.
Dengan memilih LED, kita
bukan hanya menghemat listrik, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap
bumi. Cahaya yang terang dan hemat adalah simbol masa depan yang cerah.
Terang hemat, masa depan
cerah—pilih LED untuk bumi yang lebih hijau.
Matikan Saklar Setelah Digunakan – Hemat Listrik, Selamatkan Bumi
Kebiasaan kecil sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat besar. Salah satunya adalah membiasakan diri untuk mematikan saklar dan mencabut colokan setelah digunakan. Banyak peralatan listrik tetap mengonsumsi energi meski tidak sedang dipakai, hanya karena masih terhubung ke sumber daya. Fenomena ini dikenal sebagai standby power atau listrik laten. Jika dibiarkan, energi yang terbuang akan menambah beban tagihan sekaligus memperbesar jejak karbon.
Bayangkan sebuah kelas
dengan komputer, kipas angin, dan proyektor yang dibiarkan tetap tersambung
meski sudah tidak digunakan. Dalam sehari, energi yang terbuang bisa cukup
besar. Jika seluruh madrasah melakukan hal yang sama, pemborosan energi akan
semakin terasa. Sebaliknya, jika setiap siswa dan guru membiasakan diri
mencabut colokan, maka penghematan energi akan signifikan.
Gerakan “Matikan Saklar
Setelah Digunakan” adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap bumi. Tangan
yang mencabut colokan adalah simbol tanggung jawab, dan bumi yang tersenyum
adalah gambaran hasil dari tindakan sederhana tersebut. Dengan langkah kecil ini,
kita turut menjaga lingkungan, mengurangi emisi, dan menanamkan kebiasaan baik
kepada generasi muda.
Mari jadikan gerakan ini
sebagai budaya madrasah. Guru dapat mengingatkan siswa setelah pelajaran
selesai, sementara siswa bisa saling mengingatkan teman sekelas. Petugas piket
pun dapat menambahkan pemeriksaan saklar sebagai bagian dari rutinitas harian.
Hemat listrik hari ini,
bumi tersenyum untuk masa depan.
Matikan Lampu Saat Siang – Cahaya Alami untuk Terang Sehari-hari
Mari kita biasakan
memanfaatkan cahaya alami. Membuka jendela dan tirai di pagi hingga siang hari
bukan hanya membuat ruangan terang, tetapi juga menghadirkan udara segar yang
menyehatkan. Dengan ruangan yang terang alami, suasana belajar menjadi lebih nyaman,
konsentrasi meningkat, dan energi listrik dapat dihemat.
Bayangkan jika setiap
kelas di sekolah mematikan lampu saat siang hari. Dalam satu bulan, penghematan
listrik bisa sangat signifikan. Tagihan listrik berkurang, lingkungan lebih
terjaga, dan kita turut berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Kebiasaan sederhana ini adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap bumi.
Selain itu, cahaya alami
memberi nuansa hangat yang tidak bisa digantikan oleh lampu buatan. Anak-anak
akan belajar menghargai alam, menyadari bahwa energi matahari adalah anugerah
yang harus dimanfaatkan dengan bijak.
Mari jadikan gerakan
“Matikan Lampu Saat Siang” sebagai budaya di madrasah. Guru, siswa, dan staf
bersama-sama mengingatkan untuk mematikan lampu ketika cahaya matahari sudah
cukup. Dengan langkah kecil ini, kita sedang menanamkan nilai cinta lingkungan
dan tanggung jawab energi kepada generasi muda.
Matikan lampu, buka
jendela, biarkan matahari menerangi hari kita. Hemat energi hari ini, selamatkan bumi untuk
masa depan.




.jpeg)

.png)

.jpeg)









