Pusat Informasi dan Publikasi MAN 3 Majalengka

Monday, July 20, 2026

Madrasah: Menanam Ilmu, Merawat Kemanusiaan



Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengingatkan bahwa krisis terbesar dunia pendidikan bukanlah kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab.

Kalimat itu terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan berbagai persoalan bangsa. Korupsi dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Penyebaran kebencian sering dilakukan oleh mereka yang menguasai teknologi. Kekerasan verbal di media sosial lahir dari tangan-tangan yang sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan.

Masalahnya ternyata bukan semata-mata kurangnya ilmu. Masalahnya adalah ilmu yang kehilangan arah moral.

Pemikiran Al-Attas seakan bertemu dengan pesan KH. Hasyim Asy'ari yang menempatkan adab sebelum ilmu. Ki Hadjar Dewantara juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi menuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup.

Gus Dur kemudian memperluas cakrawala itu. Bagi beliau, pendidikan harus memanusiakan manusia. Pendidikan harus melahirkan pribadi yang menghargai perbedaan, mencintai kemanusiaan, dan mampu hidup bersama dalam keberagaman. Sementara Gus Mus mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan kasih sayang akan berubah menjadi kesombongan.

Di sisi lain, Nurcholish Madjid mengajarkan bahwa menjadi religius tidak berarti menolak kemajuan. Agama dan modernitas tidak perlu dipertentangkan. Justru keduanya harus berjalan beriringan agar kemajuan tidak kehilangan arah, dan nilai-nilai agama tidak terjebak dalam romantisme masa lalu.

Jika direnungkan, gagasan para tokoh itu sesungguhnya bertemu pada satu titik yang sama. Pendidikan bukan hanya urusan mencerdaskan kepala. Pendidikan adalah ikhtiar mematangkan hati.

Karena itulah saya selalu percaya bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak anak yang menguasai sains, teknologi, atau bahasa asing.

Semua itu penting.

Tetapi bangsa ini juga membutuhkan generasi yang mampu menggunakan ilmunya untuk menghadirkan kemaslahatan.

Dalam tradisi Islam, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula amanahnya. Ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan bersama tanggung jawab. Madrasah, dalam pandangan saya, sedang berusaha merawat semangat itu.

Bukan untuk menjadikan lulusannya lebih hebat daripada lulusan sekolah umum. Bukan pula untuk menciptakan sekat antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Melainkan untuk mengingatkan bahwa keberhasilan dunia tidak pernah boleh dipisahkan dari tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama manusia.

Tulisan ini bukan ajakan agar semua orang memilih madrasah. Saya juga tidak sedang membandingkan madrasah dengan sekolah umum seolah keduanya saling berhadapan. Keduanya merupakan bagian penting dari sistem pendidikan nasional.

Keduanya memiliki peran yang sama mulia. Namun saya ingin mengajak kita mengubah satu cara pandang. Barangkali yang perlu kita kejar bukanlah sekolah yang paling bergengsi. Melainkan sekolah yang paling mampu membantu anak-anak kita bertumbuh menjadi manusia seutuhnya.

Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Dunia membutuhkan orang-orang cerdas yang tetap memiliki hati. Kita mungkin tidak sedang kekurangan sekolah. Kita juga tidak sedang kekurangan kurikulum, gedung baru, ataupun teknologi pembelajaran. Yang mulai langka justru adalah kesadaran bahwa pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan jalan menuju kedewasaan sebagai manusia.

Sebagai guru, saya percaya ilmu akan terus berkembang mengikuti zaman. Teknologi akan terus berubah. Cara belajar pun akan selalu menemukan bentuk-bentuk baru. Namun ada satu hal yang saya yakini tidak akan pernah usang yaitu Adab.

Sebab ilmu dapat mengantarkan seseorang menuju keberhasilan. Tetapi adablah yang menentukan apakah keberhasilan itu akan membawa manfaat atau justru menghadirkan kerusakan.

Dan jika pendidikan masih ingin disebut sebagai ikhtiar memanusiakan manusia, maka tugas terbesarnya bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas, melainkan generasi yang mengetahui untuk apa kecerdasannya digunakan.

Mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar prestasi, kita perlu kembali mengingat satu hal yang paling sederhana. Bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah melahirkan manusia yang paling pandai. Melainkan melahirkan manusia yang, karena ilmunya, menjadi semakin rendah hati; yang, karena pengetahuannya, semakin bermanfaat; dan yang, karena adabnya, mampu menjaga martabat dirinya sekaligus memuliakan orang lain.

Di situlah, saya percaya, peradaban yang baik selalu bermula.


*Firman Saefatullah, M. Pd (Guru MAN 3 Majalengka)

Dari Gerbang Madrasah, Kebaikan Itu Dimulai: Kehangatan Nurusshabah Menguatkan Langkah Siswa MAN 3 Majalengka


Jatiwangi (MAN 3 Majalengka)
— Tidak semua pelajaran dimulai dari buku. Ada kalanya, pendidikan berawal dari sebuah senyum yang tulus, sapaan yang hangat, dan jabat tangan yang penuh penghormatan. Itulah suasana yang menyelimuti gerbang Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka pada Senin pagi (20/7/2026), ketika para guru lebih dahulu hadir untuk menyambut setiap langkah peserta didiknya.

Matahari perlahan mengusir dinginnya embun yang masih menggantung di dedaunan. Satu per satu siswa datang dengan wajah yang masih menyimpan kantuk, lalu berubah menjadi senyum ketika disambut salam dari bapak dan ibu guru. Tidak ada sekat antara pendidik dan peserta didik. Yang hadir adalah kehangatan, rasa hormat, dan kebersamaan yang tumbuh dari perjumpaan sederhana di awal hari.

Di depan gerbang madrasah, para guru berdiri berbaris dengan wajah ramah. Setiap siswa disambut dengan budaya 3S—Salam, Senyum, dan Santun. Jabat tangan yang terulur bukan sekadar kebiasaan rutin, melainkan doa yang diam-diam dipanjatkan agar hari itu menjadi awal yang baik bagi setiap anak yang sedang menapaki jalan menuntut ilmu.

Suasana itulah yang menjadi ruh Program Nurusshabah, sebuah pembiasaan yang diyakini mampu menghadirkan energi positif sebelum proses pembelajaran dimulai. Bagi MAN 3 Majalengka, menyambut siswa bukan hanya tentang menerima kedatangan mereka, tetapi juga memastikan setiap anak merasa diterima, dihargai, dan dicintai.

Tidak sedikit siswa yang tampak menundukkan kepala penuh hormat saat menyalami guru. Sebagian lainnya menyapa dengan wajah ceria. Momen yang hanya berlangsung beberapa detik itu justru menyimpan makna yang panjang. Di sanalah karakter dibangun, bukan melalui nasihat yang panjang, melainkan melalui keteladanan yang setiap hari mereka saksikan.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Sapi'i, S.Pd., mengatakan bahwa Nuurusshabah merupakan bagian dari pembiasaan karakter yang terus ditanamkan kepada seluruh peserta didik.

"Kami ingin anak-anak memulai hari dengan hati yang bahagia. Ketika mereka merasa diterima dan dihargai, semangat belajar akan tumbuh dengan sendirinya," ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari suasana yang mampu menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan saling menghargai. Karena itulah, setiap pagi menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut melalui tindakan nyata.

Guru Al-Qur'an Hadis, Subhanuddin, M.Si., menambahkan bahwa budaya memberi salam merupakan ajaran Islam yang memiliki kekuatan membangun hubungan antarmanusia.

"Salam adalah doa. Dari salam lahir rasa persaudaraan, saling menghormati, dan kepedulian. Jika itu menjadi kebiasaan, insyaallah madrasah akan dipenuhi keberkahan," tuturnya.

Apa yang dilakukan para guru ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi peserta didik. Ali Rahman Tsani, siswa kelas XI, mengaku penyambutan tersebut membuatnya lebih bersemangat menjalani aktivitas belajar.

"Kami merasa diperhatikan. Hal sederhana seperti ini membuat kami datang ke kelas dengan perasaan senang dan lebih siap belajar," ungkapnya.

Di balik gerbang itu, orang tua yang mengantar anak-anaknya pun dapat menyaksikan bagaimana pendidikan dijalankan dengan sentuhan kemanusiaan. Mereka melihat bahwa madrasah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kasih sayang, penghormatan, dan akhlakul karimah melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

Program Nuurusshabah menjadi bukti bahwa membangun karakter tidak selalu membutuhkan langkah besar. Justru dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, tumbuh pribadi-pribadi yang menghargai sesama, mencintai gurunya, dan siap menghormati siapa pun yang mereka temui dalam kehidupan.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, MAN 3 Majalengka memilih untuk tidak kehilangan makna dari sebuah perjumpaan. Madrasah ini percaya bahwa pendidikan terbaik lahir ketika ilmu berjalan berdampingan dengan keteladanan, dan kecerdasan tumbuh bersama kelembutan hati.

Karena sejatinya, masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh anak-anak yang cerdas, tetapi juga oleh generasi yang terbiasa menebarkan salam, menghadirkan senyum, serta menghormati setiap orang yang dijumpainya. Dan semua itu, bisa dimulai dari satu gerbang madrasah pada setiap pagi yang penuh harapan.

Kontributor: Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)

Ikrar yang Menguatkan Langkah, Upacara Bendera di MAN 3 Majalengka Teguhkan Disiplin dan Karakter Pelajar

Jatiwangi (MAN 3 Majalengka) — Mentari pagi baru mulai meninggi ketika ratusan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka memasuki lapangan upacara, Senin (20/7/2026). Berbalut seragam yang rapi, mereka berdiri membentuk barisan-barisan yang tertata. Di hadapan Sang Merah Putih, seluruh warga madrasah larut dalam suasana yang hening dan penuh khidmat, menandai dimulainya upacara bendera sebagai pembuka aktivitas pembelajaran di awal pekan.

Lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya menggema mengiringi pengibaran bendera. Sesaat kemudian, suasana berubah semakin syahdu ketika seluruh peserta mengheningkan cipta. Tidak ada percakapan yang terdengar. Yang tampak hanyalah wajah-wajah penuh kesungguhan, mencerminkan penghormatan terhadap jasa para pahlawan sekaligus tekad untuk menjadi generasi penerus yang bertanggung jawab.

Momentum tersebut menjadi semakin bermakna ketika Nunung Nuraisyah, S.Pd., yang bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan amanat kepada seluruh peserta. Ia mengajak para siswa untuk tidak sekadar datang ke madrasah demi memenuhi kewajiban, tetapi menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk belajar, berproses, dan membalas perjuangan orang tua dengan prestasi serta akhlak yang baik.

"Ikrar yang kalian ucapkan hari ini adalah komitmen untuk belajar sungguh-sungguh, disiplin, dan menjaga nama baik madrasah. Wujudkan juga dengan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, karena madrasah yang bersih mencerminkan karakter pelajarnya," pesannya.

Amanat tersebut seolah menemukan puncaknya ketika seluruh siswa bersama-sama mengucapkan Ikrar Pelajar. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, mereka meneguhkan janji untuk belajar dengan sungguh-sungguh, menaati tata tertib, menghormati guru dan orang tua, serta menjaga martabat sebagai pelajar madrasah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan serempak menggema di lapangan, menjadi pengingat bahwa setiap hak selalu diiringi dengan tanggung jawab.

Bagi MAN 3 Majalengka, pembacaan Ikrar Pelajar bukan sekadar pelengkap rangkaian upacara. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembiasaan karakter yang terus ditanamkan agar nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian tumbuh menjadi budaya di lingkungan madrasah.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Sapi'i, S.Pd., mengatakan bahwa karakter peserta didik dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya melalui penyampaian teori di dalam kelas.

"Kami ingin siswa membiasakan hal-hal baik setiap hari. Disiplin, menghormati guru, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab merupakan bagian dari karakter yang harus tumbuh dalam diri setiap peserta didik," ujarnya.

Menurutnya, pembiasaan seperti upacara bendera dan pembacaan Ikrar Pelajar menjadi media efektif untuk mengingatkan kembali tujuan utama siswa datang ke madrasah, yakni menuntut ilmu sekaligus membentuk akhlak yang mulia.

Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan karakter menjadi fondasi penting dalam setiap program pembinaan di madrasah. Prestasi akademik, menurutnya, harus berjalan seiring dengan pembentukan pribadi yang jujur, disiplin, religius, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui upacara bendera yang berlangsung penuh khidmat itu, MAN 3 Majalengka kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan intelektual, tetapi juga membangun karakter. Dari lapangan upacara, nilai-nilai kedisiplinan, cinta tanah air, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kebersihan kembali ditanamkan sebagai bekal bagi para pelajar dalam menjalani kehidupan, baik di lingkungan madrasah maupun di tengah masyarakat.

Kontributor: Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)

Menjemput Bayang Ka'bah di Lapangan Basket: Kisah "Penjaga" Arah Kiblat MAN 3 Majalengka



Rabu sore itu, 28 Mei 2026, jarum jam baru saja menyentuh pukul 16.27 WIB. Di bawah langit Jatiwangi yang perlahan melunak, Lapangan Basket MAN 3 Majalengka tidak sedang riuh oleh pantulan bola atau derap sepatu olahraga. Suasananya hening, namun sarat akan antusiasme. Ratusan pasang mata tertuju pada sebatang tongkat dan bayangan yang memanjang di atas semen kelabu.

Sore itu bukan sore biasa. Melalui fenomena astronomi Rashdul Kiblat, matahari sedang berada tepat di atas Ka’bah di Makkah. Sebuah peristiwa semesta yang melintasi ruang dan waktu, menghubungkan sebuah lapangan sekolah di Majalengka langsung dengan kiblat umat Islam di belahan bumi lain.

Bagi civitas akademika MAN 3 Majalengka, momen ini bukan sekadar rutinitas kalender astronomi yang usai begitu matahari terbenam. Ini adalah ikhtiar abadi untuk menyempurnakan sujud.

Menyatukan Sains dan Ketaatan

Lapangan basket tersebut memiliki detak nadi yang vital bagi madrasah. Di sana, keringat dilepaskan saat berolahraga, upacara bendera digelar, dan di sana pula sajadah-sajadah digelar ketika seluruh warga madrasah melaksanakan ibadah bersama di area terbuka. Memastikan ke mana wajah harus dihadapkan di lapangan ini menjadi sebuah misi spiritual yang mendesak.

Di sela-sela kesibukan mengamati pergerakan bayangan, Wakil Kepala Madrasah Bidang Hubungan Masyarakat sekaligus anggota Tim Rashdul Kiblat MAN 3 Majalengka, Nana Misnara, S.Pd.I., memandang lurus ke arah garis yang baru saja ditarik. Ada gurat kelegaan di wajahnya.

"Pengukuran ini sangat penting untuk menjadi rujukan utama ke arah mana kita menghadap saat melaksanakan shalat. Dengan arah kiblat yang telah dipastikan kebenarannya, diharapkan ibadah yang kita jalankan dapat terlaksana dengan lebih sempurna sesuai tuntunan syariat Islam," ujar Nana, suaranya terdengar mantap di antara desir angin sore.

Metode ini membuktikan sebuah narasi yang tak akan pernah usang oleh zaman: bahwa sains dan agama tidak pernah berjalan saling memunggungi. Astronomi hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari penciptanya, melainkan menjadi jembatan ilmiah yang memandu jalannya syariat agar tegak dengan presisi.

Riak Kecil yang Menjadi Gelombang Nasional

Ketika sebatang tongkat diletakkan tegak lurus, matahari menuliskan jawabannya lewat bayangan. Garis lurus berhasil ditarik. Kini, Lapangan Basket MAN 3 Majalengka telah memiliki patokan standar arah kiblat yang sahih, sebuah warisan akurasi yang akan terus digunakan oleh generasi-generasi siswa di tahun-tahun mendatang.

Namun, gerakan ini tidak berhenti di dalam pagar madrasah. Kesadaran untuk meluruskan shalat ini merembet ke rumah-rumah. Sore itu, para siswa, guru, dan staf pulang dengan membawa misi baru: memeriksa arah kiblat di ruang tamu, kamar, dan mushola rumah mereka sendiri.

Tercatat, ada 351 akun warga MAN 3 Majalengka yang antusias melaporkan hasil pengukuran mandiri mereka. Angka kecil ini merupakan bagian dari gelombang besar yang bergerak di seluruh penjuru negeri. Bersama mereka, ada 1.448.000 akun dari Sabang sampai Merauke yang ikut serta dalam gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Warisan Keyakinan untuk Masa Depan

Waktu akan terus berjalan, tahun-tahun akan berganti, dan para siswa yang sore itu menyaksikan jalannya pengukuran mungkin akan segera lulus. Namun, garis kiblat yang digoreskan di atas lapangan basket Jatiwangi itu akan tetap di sana.

Lebih dari sekadar garis, kegiatan ini meninggalkan warisan literasi yang berharga bagi masyarakat sekitar. Sebuah edukasi sederhana namun mendalam bahwa memverifikasi arah kiblat dapat dilakukan secara mandiri, ilmiah, dan mudah.

Melalui peristiwa Rashdul Kiblat ini, MAN 3 Majalengka tidak hanya berhasil meluruskan shalat di atas lapangan beton, tetapi juga telah menanamkan keyakinan yang kokoh di dalam dada setiap warganya—sebuah keyakinan yang tak akan pernah usang dimakan zaman, bahwa dalam setiap sujud, mereka kini menghadap ke arah yang benar.


Kontributor : Firman Saefatullah, M. Pd

Saturday, July 18, 2026

Cek Kesehatan Gratis, MAN 3 Majalengka Pastikan Murid Baru Siap Belajar



JATIWANGI (MAN 3 Majalengka) — Tim Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Palang Merah Remaja (PMR) MAN 3 Majalengka menggelar Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi seluruh siswa baru Tahun Ajaran 2026/2027, Kamis (16/7/2026), di Aula Indoor MAN 3 Majalengka.

Kegiatan ini bertujuan mengetahui kondisi kesehatan siswa sejak awal masuk madrasah. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar untuk memberikan edukasi dan pendampingan agar siswa dapat belajar dengan sehat dan nyaman.

Pemeriksaan dilakukan melalui empat tahap, yaitu registrasi, pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah serta tanda-tanda vital, lalu dilanjutkan dengan konsultasi kesehatan. Seluruh peserta mengikuti pemeriksaan secara bergiliran sesuai jadwal kelas.

Pembina UKS dan PMR, Rosyidatul Awaliyah, S.Pd., mengatakan pemeriksaan kesehatan penting dilakukan sejak awal agar kondisi siswa dapat diketahui lebih cepat.

"Melalui pemeriksaan ini kami bisa mengetahui kondisi kesehatan dasar siswa. Jika ditemukan hal yang perlu diperhatikan, kami dapat memberikan edukasi dan menyarankan pemeriksaan lanjutan. Harapannya, siswa semakin terbiasa menerapkan pola hidup bersih dan sehat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., menegaskan bahwa kesehatan menjadi modal utama bagi peserta didik untuk meraih prestasi.

"Siswa yang sehat akan lebih siap mengikuti pembelajaran. Karena itu, kami ingin memastikan kondisi mereka sejak awal masuk madrasah," katanya.

Hasil pemeriksaan menunjukkan sebagian besar siswa berada dalam kondisi sehat. Namun, tim UKS juga menemukan beberapa siswa dengan tekanan darah yang perlu dipantau, status gizi kurang atau berlebih, serta indikasi anemia ringan pada beberapa siswi. Mereka mendapat edukasi tentang pentingnya makan bergizi, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga.

Bagi siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, tim UKS memberikan konseling dan menyarankan pemeriksaan lanjutan di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

Melalui kegiatan ini, MAN 3 Majalengka ingin membiasakan siswa peduli terhadap kesehatan sejak dini. Dengan tubuh yang sehat, mereka diharapkan dapat belajar lebih optimal, berprestasi, dan tumbuh menjadi generasi yang kuat, cerdas, dan berkarakter.


Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)

Awali dengan Bismillah Agar Aktifitas Kita Berkah, Nasihat Khotib Jum'at di Masjid Al Azfar MAN 3 Majalengka


 Jatiwangi (MAN 3 Majalengka) — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al Azfar MAN 3 Majalengka saat murid, guru, dan tenaga kependidikan melaksanakan Shalat Jumat, Jumat (17/7/2026). Kegiatan rutin pembinaan keagamaan ini diikuti seluruh jamaah dengan tertib.

Khutbah disampaikan oleh Guru Akidah Akhlak MAN 3 Majalengka, Ust. Solehudin, S.Pd. Ia mengajak jamaah membiasakan mengawali setiap aktivitas dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim sebagai bentuk tawakal kepada Allah Swt. sekaligus harapan agar setiap pekerjaan mendapat keberkahan.

"Basmalah bukan sekadar ucapan pembuka, tetapi wujud penyerahan diri kepada Allah. Dengan memulainya atas nama Allah, setiap aktivitas dapat bernilai ibadah dan membawa manfaat," ujarnya.

Pesan yang disampaikan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jamaah pun menyimak khutbah dengan tenang dan penuh perhatian hingga rangkaian ibadah selesai.

Usai salat, Pembina Keagamaan MAN 3 Majalengka, Jali Rojali, S.Pd.I., mengatakan bahwa Shalat Jumat menjadi bagian dari pembinaan karakter religius di madrasah.

"Shalat Jumat bukan hanya memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga membentuk karakter. Kami berharap nilai-nilai religius yang dibiasakan di madrasah dapat terus diterapkan di keluarga dan masyarakat," katanya.

Melalui pembiasaan ibadah secara rutin, MAN 3 Majalengka terus berupaya menyeimbangkan penguatan akademik dan pembinaan karakter agar lahir generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.


Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)

Tuesday, July 14, 2026

Terbangkan Pesawat Harapan Tandai Pembukaan MATAMUDA 2026 MAN 3 Majalengka

Jatiwangi-MAN 3 MAJALENGKA. Hj. Ela Nurlaela, M. Pd., Kepala MAN 3 Majalengka resmi membuka Masa Ta'aruf Murid Baru (MATAMUDA) 2026 pada hari senin tanggal 13 Juli 2026 dengan secara bersama-sama dengan semua peserta menerbangkan pesawat harapan ke arah langit.

Dalam amanahnya Hj Ela Nurlaela menerangkan bahwa penerbangan pesawat kertas yang ditulisi harapan menjadi simbol di sematkannya harapan-harapan yang baik sebagai tujuan para murid baru mengenyam pendidikan di MAN 3 Majalengka. Pesawat yang melaju ke arah atas menunjukkan harus adanya progress yang meningkat dari sebelum belajar di MAN. 

Kita sudah ditakdirkan untuk bersama di sini, di MAN 3 Majalengka. oleh karenanya kita harus fokus dan tidak lagi menoleh ke kanan dan ke kiri. Fokus para murid dalam belajar akan menentukan hasil dari proses yang di jalani selama di Madrasah. Kalau fokus dan tidak ragu, insyaallah akan sukses. terang Hj. ela Nurlaela.

Giat MATAMUDA akan di gelar selama 3 hari bertempat di lingkungan MAN 3 Majalengka. Sebagai wahana pengenalan lingkungan belajar di madrasah, murid baru akan diperkenalkan ke semua sarana dan prasarana yang ada di madrasah. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah para murid baru beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang baru.

Selama MATAMUDA para murid baru akan diperkenalkan pada semua warga madrasah. Terutama pada tenaga pendidik atau guru yang akan mengajar dan membimbing selama di madrasah, juga akan diperkenalkan pada tenaga kependidikan yang akan membantu dan memfasilitasi dukungan kegiatan pembelajaran. 

Pemaparan materi sebagai bentuk ikhtiar mempermudah pemahaman dan adapatasi peserta MATAMUDA akan di sampaikan oleh beberapa narasumber yang terdiri dari Guru, Pembina Ekstrakulikuler dan Profesional yang ahli dibidangnya.

Materi yang akan dipaparkan antara lain Pencegahan ekstrimisme dan narkoba oleh kepolisian, Bela negara oleh Tentara, Bimbingan usia remaja sekolah oleh psikolog, Nilai-nilai kemadrasahan oleh kepala madrasah, dan materi-materi yang disampaikan oleh wakil kepala madrasah dan pembina ekstrakulikuler.  

Thursday, July 2, 2026

Kemenag Gelar Sosialisasi Juknis MATAMUDA TP 2026/2027 Hari Ini Lewat YouTube


Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia menyelenggarakan agenda penting hari ini. Sosialisasi Petunjuk Teknis (Juknis) MATAMUDA (Masa Taaruf Murid Madrasah) Tahun Pelajaran 2026/2027 disiarkan secara langsung untuk memberikan panduan resmi bagi seluruh satuan pendidikan madrasah di Indonesia. 
Acara ini sangat krusial bagi pengelola madrasah agar proses orientasi siswa baru berjalan seragam, edukatif, dan sesuai dengan regulasi terbaru yang ditetapkan pemerintah. Berikut informasi lengkap pelaksanaan sosialisasi: Waktu & Saluran Penyiaran, Hari / Tanggal: Kamis, 2 Juli 2026 Waktu: Jam 10.00 WIB, Media Penyiaran: Live YouTube di Pendis Channel, Narasumber Utama Sosialisasi ini menghadirkan para pemangku kebijakan dan tim ahli langsung dari Kementrian Agama : Prof. Dr. Hj. Nyayu Khodijah (Direktur KSKK Madrasah) H. Sholla Taufiq (Kasubdit Kesiswaan KSKK Madrasah) H. Ngusri Yusron (Tim Kesiswaan) Pemandu Acara Host: Yutun Wulandari, Seluruh kepala madrasah, guru, komite, dan panitia penerimaan murid baru diimbau untuk menyimak tayangan ini agar memahami teknis pelaksanaan MATAMUDA TP 2026/2027 secara utuh.

Thursday, June 11, 2026

Sanitasi di Lingkungan Madrasah sebagai Pilar Pendidikan Sehat

Sanitasi merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan produktif. Di madrasah, sanitasi tidak hanya berkaitan dengan kebersihan fisik, tetapi juga mencerminkan kepedulian terhadap kesehatan, disiplin, dan tanggung jawab sosial. Dengan penerapan sanitasi yang baik, madrasah dapat menjadi tempat yang mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal, baik dari sisi akademik maupun karakter.

Sanitasi sebagai Budaya Madrasah

Madrasah adalah ruang belajar sekaligus rumah kedua bagi siswa. Lingkungan yang bersih dan sehat akan meningkatkan konsentrasi, mencegah penyakit, serta menumbuhkan rasa nyaman. Ketika sanitasi dijadikan budaya, siswa belajar bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari ibadah dan rasa syukur atas nikmat fasilitas yang diberikan. Misalnya, mencuci tangan sebelum makan atau menjaga kebersihan toilet dapat dikaitkan dengan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.


Integrasi Sanitasi dalam Kurikulum

Sanitasi dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum berwawasan lingkungan hidup. Beberapa contoh penerapannya adalah:

IPA/Informatika
Siswa mempelajari dampak buruk sanitasi yang tidak terjaga terhadap kesehatan dan membuat aplikasi sederhana untuk monitoring kebersihan.

Bahasa Indonesia
Siswa menulis artikel atau puisi tentang pentingnya menjaga sanitasi di sekolah.

Pendidikan Agama Islam 
Guru menekankan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, sehingga menjaga sanitasi madrasah berarti menjaga amanah Allah.

Dengan cara ini, sanitasi tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga bagian dari pembelajaran holistik yang menanamkan nilai ekologis dan spiritual.

Praktik Nyata Sanitasi di Madrasah

Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan madrasah untuk meningkatkan sanitasi antara lain:

Program Cuci Tangan Bersama
Menyediakan fasilitas wastafel dengan sabun di area strategis dan membiasakan siswa mencuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan.

Perawatan Toilet dan Kamar Mandi
Memastikan fasilitas sanitasi selalu bersih, tersedia air, dan tidak menimbulkan bau.

Pengelolaan Sampah
Menyediakan tempat sampah terpilah dan mengajarkan siswa cara membuang sampah sesuai jenisnya.

Inspeksi Sanitasi Rutin
Guru dan siswa bersama-sama melakukan pengecekan kebersihan kelas, kantin, dan lingkungan sekolah.

Green Class Competition 
Lomba antar kelas dalam menjaga kebersihan dan sanitasi ruang belajar.

Dampak Positif Sanitasi

Penerapan sanitasi yang baik di madrasah memberikan dampak luas
Kesehatan Mencegah penyakit menular seperti diare, flu, dan infeksi kulit.
Karakter Menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Spiritualitas Kebersihan dipahami sebagai bagian dari iman dan ibadah.
Ekologi Siswa terbiasa menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih dan sehat.

Sanitasi di lingkungan madrasah bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari pendidikan holistik yang mengintegrasikan ilmu, sikap, dan nilai spiritual. Dengan menjadikan sanitasi sebagai budaya dan praktik nyata, madrasah dapat mencetak generasi yang sehat, berkarakter, dan cinta lingkungan. Inilah wujud nyata kurikulum berwawasan lingkungan hidup yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan cinta dan tanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama.

Wednesday, June 10, 2026

Kebersihan di Lingkungan Madrasah sebagai Penerapan Kurikulum Berwawasan Lingkungan Hidup

Kebersihan merupakan salah satu aspek fundamental dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan produktif. Di madrasah, kebersihan tidak hanya dipandang sebagai rutinitas fisik, tetapi juga sebagai wujud nyata penerapan kurikulum berwawasan lingkungan hidup. Kurikulum ini menekankan pentingnya kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, serta nilai spiritual dalam menjaga alam sebagai amanah Allah. Dengan demikian, kebersihan madrasah menjadi bagian integral dari pendidikan karakter dan pembentukan budaya cinta lingkungan.

Kebersihan sebagai Budaya Madrasah

Madrasah adalah tempat siswa belajar, berinteraksi, dan membentuk kepribadian. Lingkungan yang bersih akan mendukung konsentrasi, kesehatan, dan kenyamanan siswa. Ketika kebersihan dijadikan budaya, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari ibadah. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya dapat dikaitkan dengan nilai disiplin dan tanggung jawab, sementara menjaga kebersihan kelas mencerminkan rasa syukur atas nikmat fasilitas yang diberikan.

Integrasi dalam Kurikulum Berwawasan Lingkungan

Kurikulum berwawasan lingkungan hidup menekankan keterkaitan antara ilmu pengetahuan, sikap, dan tindakan nyata. Kebersihan madrasah dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran:

IPA/Informatika
Siswa diajak memahami dampak sampah plastik terhadap ekosistem dan membuat solusi digital sederhana untuk monitoring kebersihan.

Bahasa Indonesia 
Siswa menulis cerita atau puisi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan Madrasah.

Pendidikan Agama Islam
Guru menekankan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, sehingga menjaga madrasah berarti menjaga amanah Allah.

Dengan cara ini, kebersihan tidak hanya menjadi aktivitas rutin, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran holistik.

Praktik Nyata di Madrasah
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan madrasah untuk menerapkan kebersihan sebagai bagian dari kurikulum berwawasan lingkungan hidup antara lain:

Program Jumat Bersih
Seluruh warga madrasah bergotong royong membersihkan kelas, halaman, dan taman.

Bank Sampah Madrasah 
Siswa diajak memilah sampah organik dan anorganik, kemudian mengelolanya untuk daur ulang atau kompos.

Green Class Competition
Lomba antar kelas dalam menjaga kebersihan dan keindahan ruang belajar.

Mindful Walking 54321
Siswa berjalan di sekitar madrasah sambil mengaktifkan pancaindra, merasakan kedekatan dengan alam, dan menuliskan refleksi tentang kebersihan lingkungan.

Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan praktis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis dan spiritual.

Dampak Positif

Penerapan kebersihan di madrasah sebagai bagian dari kurikulum berwawasan lingkungan hidup memberikan dampak positif yang luas:
Kesehatan, lingkungan bersih mengurangi risiko penyakit menular.
Karakter, siswa terbiasa disiplin, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.
Spiritualitas, kebersihan dipahami sebagai bagian dari iman dan ibadah.
Ekologi, siswa menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Kebersihan di lingkungan madrasah bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari pendidikan holistik yang mengintegrasikan ilmu, sikap, dan nilai spiritual. Dengan menjadikan kebersihan sebagai budaya dan praktik nyata, madrasah dapat mencetak generasi yang sehat, berkarakter, dan cinta lingkungan. Inilah wujud nyata kurikulum berwawasan lingkungan hidup yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan cinta dan tanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama. 

Thursday, May 21, 2026

Lentingkan Prestasi, Jurnalistik MAN 3 Majalengka Raih 3 Juara Harapan di Event Lomba Nasional

Jatiwangi, Kamis, 21/05/26. Untuk kesekian kalinya ekstrakulikuler Jurnalistik MAN 3 Majalengka kembali mendulang prestasi. Kali ini tidak tanggung-tanggung mereka mendapatkan prestasi di event lomba video tiktok tingkat Nasional yang diselenggarakan 2 institusi kredibel.

Prestasi gemilang yang diraih ekstra kulikuler jurnalistik berturut-turut adalah harapan I di tiga kategori lomba Video Pelajar yang sama-sama dilaksanakan di tingkat Nasional, 1 kategori di The Olympus Champion Bali dan 2 kategori di Global House.

Selaku Pembina Esktrakulikuler Jurnaslitik, Firman Saefatullah memberikan apresiasi untuk para siswa yang mengikuti ajang bergengsi nasional ini. Lomba ini menjadi ajang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak-anak. 

Lomba ini memantik potensi yang dimiliki oleh anak-anak ekstrakulikuler jurnalsitik, potensi mereka semakin terasah dan terahkan pada kegiatan yang menuntut daya kreatif dan optimalisasi karya. Karena dengan lomba ini mereka terus belajar dan berlatih dengan membuat karya-karya yang dapat mengharumkan nama madrasah. terang Firman.   

Nasya Sintia Dewi, ketua ekstrakulikuler jurnalitik mengungkapkan kegembiraanya atas prestasi yang di raih oleh eskul yang dipimpinnya. Kesungguhan yang terus menerus menjadi spirit dalam membuat karya akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan, kita memang tidak masuk menjadi juara utama tapi pencapaian ini bisa membuktikan bahwa kita mampu berperan dalam mengharukan nama madrasah, ungkapnya.  

Lomba ini diikuti oleh anggota ekstrakulikuler jurnaslitik yang di bagi kedalam tiga kategori lomba, pertama lomba video kuliner lokal diikuti oleh Nasya Sintia Dewi kelas XI E dan Fadlan Maulana Dzikry kelas XI A. 

Kedua kategori video tempat menarik di daerahku diikuti oleh Ali Rahman Tsani kelas X A, Satria Agung Nursahid kelas XI B, Jauza Desfira Khumairah kelas XI F dan Radyana Nuraulida Sopian Kelas Xi F. 

Ketiga, Kategori Potret Positif Sekolahku diikuti oleh Desifa rahmawati kelas XA, Dewi Sita Apriliando kelas XA, Tiara Zulfaa Nurcahya Kelas XA, Nazril Rizq Nefriady Chaniago kelas XA dan Sidiq Firmansyah Kelas XI B.

Hj. Ela Nurlela, M. Pd, Kepala MAN 3 Majalengka turut mengapresiasi prestasi yang terus diukir oleh semua ekstrakulikuler yang ada di madrasah. Keberhasilan dalam mengikuti perlombaan itu bukan sesuatu yang instan, semua harus dipersiapkan dan ditreatmen dengan baik.

Hari ini prestasi kembali dipersembahkan oleh ekstrakulikuler Jurnalistik. Ibu merasa bangga dan meminta kepada semuanya untuk terus berkarya, jangan patah semangat dan jangan lupa bahagia, pungkas Hj. Ela.

Monday, May 11, 2026

Hemat Energi = Cinta Lingkungan

Menghemat energi bukan sekadar mengurangi tagihan listrik, tetapi merupakan wujud nyata cinta kita kepada bumi. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan. Mematikan lampu saat tidak diperlukan, mencabut colokan setelah digunakan, menggunakan lampu LED, atau mengatur suhu AC dengan bijak adalah bentuk kasih sayang terhadap lingkungan.

Bayangkan anak-anak memeluk bumi berbentuk hati. Itulah simbol sederhana yang menggambarkan bahwa bumi adalah sahabat yang harus kita jaga. Dengan hemat energi, kita sedang memeluk bumi, melindunginya dari kerusakan, dan memastikan ia tetap tersenyum untuk generasi mendatang.

Energi yang kita gunakan sebagian besar masih berasal dari sumber daya alam yang terbatas dan menghasilkan emisi karbon. Jika kita boros, maka semakin besar pula dampak negatif terhadap iklim dan lingkungan. Sebaliknya, dengan hemat energi, kita membantu mengurangi polusi udara, menjaga kualitas lingkungan, dan memperlambat laju pemanasan global.

Madrasah sebagai tempat belajar bisa menjadi teladan. Panel surya di atap, turbin angin kecil di halaman, atau sekadar kebiasaan mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan adalah langkah nyata menuju masa depan hijau. Guru, siswa, dan staf dapat bersama-sama membangun budaya hemat energi sebagai bagian dari pendidikan karakter dan cinta lingkungan.

Mari jadikan slogan “Hemat Energi = Cinta Lingkungan” bukan hanya kata-kata, tetapi tindakan sehari-hari. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, kita bisa menjaga bumi tetap sehat, indah, dan layak huni.

Hemat energi hari ini, selamatkan bumi untuk generasi esok.

Atur AC di 24–26°C – Nyaman Tanpa Boros Energi

Air conditioner (AC) adalah salah satu perangkat yang paling banyak digunakan di madrasah maupun rumah untuk menciptakan suasana sejuk dan nyaman. Namun, penggunaan AC yang tidak bijak sering kali menjadi penyebab utama pemborosan energi. Menyetel suhu terlalu rendah, misalnya di bawah 20°C, memang terasa dingin, tetapi sebenarnya tidak diperlukan dan justru membuat konsumsi listrik melonjak.

Suhu ideal untuk kenyamanan sekaligus efisiensi energi adalah 24–26°C. Pada rentang suhu ini, ruangan tetap terasa sejuk, tubuh tidak mengalami perbedaan suhu ekstrem, dan listrik yang digunakan lebih hemat. Selain itu, pengaturan suhu yang tepat membantu menjaga kesehatan, karena udara yang terlalu dingin bisa menyebabkan masalah pernapasan atau penurunan daya tahan tubuh.

Selain pengaturan suhu, perawatan AC juga sangat penting. Membersihkan filter secara rutin akan membuat AC bekerja lebih efisien, mengurangi beban listrik, dan menjaga kualitas udara tetap sehat. AC yang kotor memerlukan daya lebih besar untuk menghasilkan suhu yang sama, sehingga boros energi dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Mari jadikan kebiasaan mengatur suhu AC di 24–26°C sebagai bagian dari budaya hemat energi di madrasah. Guru dan siswa dapat saling mengingatkan, sementara petugas piket bisa memastikan AC dimatikan setelah jam pelajaran selesai. Dengan langkah kecil ini, kita tidak hanya menghemat listrik, tetapi juga turut menjaga bumi dari dampak pemanasan global.

Nyaman bukan berarti boros—atur suhu dengan bijak, sejukkan bumi dengan cinta.

Gunakan Lampu LED – Terang Hemat dan Tahan Lama

Lampu adalah salah satu kebutuhan utama di madrasah maupun rumah. Tanpa pencahayaan yang baik, kegiatan belajar dan bekerja tentu akan terganggu. Namun, pilihan jenis lampu yang kita gunakan sangat menentukan seberapa besar energi yang terpakai. Lampu pijar tradisional memang murah saat dibeli, tetapi boros listrik dan cepat rusak. Sebaliknya, lampu LED hadir sebagai solusi cerdas: terang, hemat, dan tahan lama.

Lampu LED mampu menghemat energi hingga 80% dibandingkan lampu pijar. Artinya, dengan cahaya yang sama terang, listrik yang digunakan jauh lebih sedikit. Selain itu, LED memiliki umur pakai lebih panjang, bisa mencapai puluhan ribu jam. Dengan demikian, madrasah tidak perlu sering mengganti lampu, sehingga biaya perawatan juga berkurang.

Keunggulan lain dari LED adalah ramah lingkungan. Lampu ini tidak mengandung merkuri atau bahan berbahaya, sehingga lebih aman bagi kesehatan. Cahaya yang dihasilkan pun lebih stabil, tidak berkedip, dan nyaman untuk mata. Hal ini sangat penting bagi siswa yang belajar berjam-jam di kelas.

Mari kita jadikan gerakan “Gunakan Lampu LED” sebagai bagian dari budaya hemat energi di madrasah. Setiap ruang kelas, laboratorium, dan kantor bisa beralih ke LED secara bertahap. Guru dan siswa dapat ikut mengkampanyekan manfaat LED melalui poster, mading, atau media sosial madrasah.

Dengan memilih LED, kita bukan hanya menghemat listrik, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap bumi. Cahaya yang terang dan hemat adalah simbol masa depan yang cerah.

Terang hemat, masa depan cerah—pilih LED untuk bumi yang lebih hijau.

Matikan Saklar Setelah Digunakan – Hemat Listrik, Selamatkan Bumi

Kebiasaan kecil sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat besar. Salah satunya adalah membiasakan diri untuk mematikan saklar dan mencabut colokan setelah digunakan. Banyak peralatan listrik tetap mengonsumsi energi meski tidak sedang dipakai, hanya karena masih terhubung ke sumber daya. Fenomena ini dikenal sebagai standby power atau listrik laten. Jika dibiarkan, energi yang terbuang akan menambah beban tagihan sekaligus memperbesar jejak karbon.

Bayangkan sebuah kelas dengan komputer, kipas angin, dan proyektor yang dibiarkan tetap tersambung meski sudah tidak digunakan. Dalam sehari, energi yang terbuang bisa cukup besar. Jika seluruh madrasah melakukan hal yang sama, pemborosan energi akan semakin terasa. Sebaliknya, jika setiap siswa dan guru membiasakan diri mencabut colokan, maka penghematan energi akan signifikan.

Gerakan “Matikan Saklar Setelah Digunakan” adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap bumi. Tangan yang mencabut colokan adalah simbol tanggung jawab, dan bumi yang tersenyum adalah gambaran hasil dari tindakan sederhana tersebut. Dengan langkah kecil ini, kita turut menjaga lingkungan, mengurangi emisi, dan menanamkan kebiasaan baik kepada generasi muda.

Mari jadikan gerakan ini sebagai budaya madrasah. Guru dapat mengingatkan siswa setelah pelajaran selesai, sementara siswa bisa saling mengingatkan teman sekelas. Petugas piket pun dapat menambahkan pemeriksaan saklar sebagai bagian dari rutinitas harian.

Hemat listrik hari ini, bumi tersenyum untuk masa depan.

Matikan Lampu Saat Siang – Cahaya Alami untuk Terang Sehari-hari

Sinar matahari adalah sumber energi alami yang paling murah, paling sehat, dan paling ramah lingkungan. Di siang hari, cahaya matahari mampu menerangi ruangan dengan sempurna tanpa bantuan listrik. Sayangnya, kebiasaan menyalakan lampu meski jendela sudah terbuka masih sering terjadi di madrasah maupun rumah. Padahal, tindakan kecil ini bisa menambah beban listrik dan memperbesar jejak karbon yang merugikan bumi.

Mari kita biasakan memanfaatkan cahaya alami. Membuka jendela dan tirai di pagi hingga siang hari bukan hanya membuat ruangan terang, tetapi juga menghadirkan udara segar yang menyehatkan. Dengan ruangan yang terang alami, suasana belajar menjadi lebih nyaman, konsentrasi meningkat, dan energi listrik dapat dihemat.

Bayangkan jika setiap kelas di sekolah mematikan lampu saat siang hari. Dalam satu bulan, penghematan listrik bisa sangat signifikan. Tagihan listrik berkurang, lingkungan lebih terjaga, dan kita turut berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Kebiasaan sederhana ini adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap bumi.

Selain itu, cahaya alami memberi nuansa hangat yang tidak bisa digantikan oleh lampu buatan. Anak-anak akan belajar menghargai alam, menyadari bahwa energi matahari adalah anugerah yang harus dimanfaatkan dengan bijak.

Mari jadikan gerakan “Matikan Lampu Saat Siang” sebagai budaya di madrasah. Guru, siswa, dan staf bersama-sama mengingatkan untuk mematikan lampu ketika cahaya matahari sudah cukup. Dengan langkah kecil ini, kita sedang menanamkan nilai cinta lingkungan dan tanggung jawab energi kepada generasi muda.

Matikan lampu, buka jendela, biarkan matahari menerangi hari kita. Hemat energi hari ini, selamatkan bumi untuk masa depan.

Thursday, February 12, 2026

PMB MAN 3 Majalengka

 

MAN 3 MAJALENGKA

✿ MA Plus Keterampilan ✿ MA Penyelenggara Riset ✿ MA Berasrama

Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) 2026-2027


بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ الرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِيم

MAN 3 Majalengka membuka penerimaan murid baru 

Tahun Pelajaran 2026-2027

Gelombang 1

Pendaftaran

Jalur Prestasi 02 - 28 Februari 2026
Jalur Reguler 02 Februari – 19 Juni 2026

Melengkapi Dokumen (diserahkan saat daftar ulang)

  • Pas Foto 3x4 berlatar merah
  • Fotocopy Kartu Keluarga
  • Fotocopy Akta Kelahiran
  • Fotocopy Ijazah/ Surat Keterangan Lulus
  • KIP/ PKH/ KPS/ SKTM (bagi yang memiliki)
  • Sertifikat/ Piagam Prestasi, Surat Keterangan Rangking/ Tahfidz (untuk jalur prestasi

Mengisi 👉 Formulir PMB MAN 3 Majalengka

Program Keterampilan:

  • Tata Boga
  • Tata Busana
  • Multimedia

Tersedia asrama/ Pondok Pesantren dengan program tahfidz dan Qiraatul Kutub
Ekstrakurikuler: Olah Raga, Seni, dan Jurnalis


Pengumuman Seleksi

Administrasi 22 Juni 2026

Alamat Kampus:

MAN 3 MAJALENGKA
Jl. Lanud S. Soekani 110 Ds. Mekarsari Kec. Jatiwangi Kab. Majalengka 45454


Contact Person:


Majalengka, Januari 2026

Panitia PMBM

MAN 3 Majalengka