Pusat Informasi dan Publikasi MAN 3 Majalengka
Showing posts with label FIKIH. Show all posts
Showing posts with label FIKIH. Show all posts

Monday, July 20, 2026

Menjemput Bayang Ka'bah di Lapangan Basket: Kisah "Penjaga" Arah Kiblat MAN 3 Majalengka



Rabu sore itu, 28 Mei 2026, jarum jam baru saja menyentuh pukul 16.27 WIB. Di bawah langit Jatiwangi yang perlahan melunak, Lapangan Basket MAN 3 Majalengka tidak sedang riuh oleh pantulan bola atau derap sepatu olahraga. Suasananya hening, namun sarat akan antusiasme. Ratusan pasang mata tertuju pada sebatang tongkat dan bayangan yang memanjang di atas semen kelabu.

Sore itu bukan sore biasa. Melalui fenomena astronomi Rashdul Kiblat, matahari sedang berada tepat di atas Ka’bah di Makkah. Sebuah peristiwa semesta yang melintasi ruang dan waktu, menghubungkan sebuah lapangan sekolah di Majalengka langsung dengan kiblat umat Islam di belahan bumi lain.

Bagi civitas akademika MAN 3 Majalengka, momen ini bukan sekadar rutinitas kalender astronomi yang usai begitu matahari terbenam. Ini adalah ikhtiar abadi untuk menyempurnakan sujud.

Menyatukan Sains dan Ketaatan

Lapangan basket tersebut memiliki detak nadi yang vital bagi madrasah. Di sana, keringat dilepaskan saat berolahraga, upacara bendera digelar, dan di sana pula sajadah-sajadah digelar ketika seluruh warga madrasah melaksanakan ibadah bersama di area terbuka. Memastikan ke mana wajah harus dihadapkan di lapangan ini menjadi sebuah misi spiritual yang mendesak.

Di sela-sela kesibukan mengamati pergerakan bayangan, Wakil Kepala Madrasah Bidang Hubungan Masyarakat sekaligus anggota Tim Rashdul Kiblat MAN 3 Majalengka, Nana Misnara, S.Pd.I., memandang lurus ke arah garis yang baru saja ditarik. Ada gurat kelegaan di wajahnya.

"Pengukuran ini sangat penting untuk menjadi rujukan utama ke arah mana kita menghadap saat melaksanakan shalat. Dengan arah kiblat yang telah dipastikan kebenarannya, diharapkan ibadah yang kita jalankan dapat terlaksana dengan lebih sempurna sesuai tuntunan syariat Islam," ujar Nana, suaranya terdengar mantap di antara desir angin sore.

Metode ini membuktikan sebuah narasi yang tak akan pernah usang oleh zaman: bahwa sains dan agama tidak pernah berjalan saling memunggungi. Astronomi hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari penciptanya, melainkan menjadi jembatan ilmiah yang memandu jalannya syariat agar tegak dengan presisi.

Riak Kecil yang Menjadi Gelombang Nasional

Ketika sebatang tongkat diletakkan tegak lurus, matahari menuliskan jawabannya lewat bayangan. Garis lurus berhasil ditarik. Kini, Lapangan Basket MAN 3 Majalengka telah memiliki patokan standar arah kiblat yang sahih, sebuah warisan akurasi yang akan terus digunakan oleh generasi-generasi siswa di tahun-tahun mendatang.

Namun, gerakan ini tidak berhenti di dalam pagar madrasah. Kesadaran untuk meluruskan shalat ini merembet ke rumah-rumah. Sore itu, para siswa, guru, dan staf pulang dengan membawa misi baru: memeriksa arah kiblat di ruang tamu, kamar, dan mushola rumah mereka sendiri.

Tercatat, ada 351 akun warga MAN 3 Majalengka yang antusias melaporkan hasil pengukuran mandiri mereka. Angka kecil ini merupakan bagian dari gelombang besar yang bergerak di seluruh penjuru negeri. Bersama mereka, ada 1.448.000 akun dari Sabang sampai Merauke yang ikut serta dalam gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Warisan Keyakinan untuk Masa Depan

Waktu akan terus berjalan, tahun-tahun akan berganti, dan para siswa yang sore itu menyaksikan jalannya pengukuran mungkin akan segera lulus. Namun, garis kiblat yang digoreskan di atas lapangan basket Jatiwangi itu akan tetap di sana.

Lebih dari sekadar garis, kegiatan ini meninggalkan warisan literasi yang berharga bagi masyarakat sekitar. Sebuah edukasi sederhana namun mendalam bahwa memverifikasi arah kiblat dapat dilakukan secara mandiri, ilmiah, dan mudah.

Melalui peristiwa Rashdul Kiblat ini, MAN 3 Majalengka tidak hanya berhasil meluruskan shalat di atas lapangan beton, tetapi juga telah menanamkan keyakinan yang kokoh di dalam dada setiap warganya—sebuah keyakinan yang tak akan pernah usang dimakan zaman, bahwa dalam setiap sujud, mereka kini menghadap ke arah yang benar.


Kontributor : Firman Saefatullah, M. Pd

Wednesday, August 7, 2024

Membedah Kasus Vina Cirebon menurut Hukum Jinayat pada Pelajaran Fikih di MAN 3 Majalengka



Kasus Vina yang sedang marak diperbincangkan tak luput dijadikan contoh oleh Guru Fikih MAN 3 Majalengka. Firman Saefatullah yang mengampu pelajaran fikih di kelas XI mengemas kasus tersebut menjadi bahan diskusi yang menarik pendalaman materi pada bab Jinayat. Kamis, 7/8/2024.

Dalam pembahasan Bab Jinayat, ada satu sub materi yang membahas secara rinci contoh-contoh tindak pidana dalam prespektif hukum syariat tersebut. salah satunya adalah pembahasan tentang pembunuhan. dari mulai definisi pembunuhan menurut hukum syari'at hingga membedahnya melalui pasal-pasal di dalam KUHP atau hukum positif dan berbagai foneomena yang menyertainya.

Agar semakin intens pembahasannya, Firman membagi siswanya ke dalam lima kelompok dengan pembagian yang acak. Diskusi dimulai dengan pemilihan ketua kelompok, notulen dan tim pencari data. Semua anggota kelompok mempunyai tugas masing-masing yang saling melengkapi satu sama lain.

Untuk memenuhi unsur pembelajaran yang mengarustamakan kolaborasi, saya membagi siswa di kelas kedalam kelompk-kelompok kecil dan membagi pula tugas masing-masing anggota di dalamnya. hal ini dimaksudkan untuk memudahkan alur pembahasan dan mengefektifkan penugasan selama berlangsungnya diskusi, ujar Firman.

Langkah berikutnya membagikan item pertanyaan kepada masing-masing kelompok. Pertanyaan dibuat berbeda atar kelompok, satu kelompok membahas satu pertanyaan. Selain jawaban atas pertanyaan itu anggota kelompk juga harus mencari dalil penguatnya, baik dari dalil al Qur'an, hadits maupun pendapat Ulama di kitab-kitab Fikih klasik.

Satu kelompok membahas pengertian pembunuhan, kelompok yang lain diminta untuk membedah motif atau latar belakang terjadinya pembunuhan, ada juga yang membahas sanksi atau hukuman bagi parapembunuhnya dan hikmah dari dilarangnya pembunuhan, terang Firman.



Kegiatan pembelajaran ini di akhiri dengan presentasi dari masing-masing kelompok. Peserta didik dalam mempresentasikan, mengajukan pertanyaan dan menyanggah pendapat yang lain terlihat sangat antusias dan bergembira tak pelak tawa bersama pun tercipta di sela-sela presentasi.

Kasus Vina yang begitu fenomenal ternyata bisa dijadikan sebagai bahan pelajaran yang menarik untuk anak didik. Pembelajaran jadi tidak terkesan monoton dan tekstual, tapi konteksnya dapat dirasakan oleh peserta didik sehingga keilmuan yang dibahas tidak terasa kering dari makna. Pungkas Firman. 


Kontributor : Firman Saefatullah