Pusat Informasi dan Publikasi MAN 3 Majalengka

Monday, July 20, 2026

Madrasah: Menanam Ilmu, Merawat Kemanusiaan



Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengingatkan bahwa krisis terbesar dunia pendidikan bukanlah kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab.

Kalimat itu terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan berbagai persoalan bangsa. Korupsi dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Penyebaran kebencian sering dilakukan oleh mereka yang menguasai teknologi. Kekerasan verbal di media sosial lahir dari tangan-tangan yang sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan.

Masalahnya ternyata bukan semata-mata kurangnya ilmu. Masalahnya adalah ilmu yang kehilangan arah moral.

Pemikiran Al-Attas seakan bertemu dengan pesan KH. Hasyim Asy'ari yang menempatkan adab sebelum ilmu. Ki Hadjar Dewantara juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi menuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup.

Gus Dur kemudian memperluas cakrawala itu. Bagi beliau, pendidikan harus memanusiakan manusia. Pendidikan harus melahirkan pribadi yang menghargai perbedaan, mencintai kemanusiaan, dan mampu hidup bersama dalam keberagaman. Sementara Gus Mus mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan kasih sayang akan berubah menjadi kesombongan.

Di sisi lain, Nurcholish Madjid mengajarkan bahwa menjadi religius tidak berarti menolak kemajuan. Agama dan modernitas tidak perlu dipertentangkan. Justru keduanya harus berjalan beriringan agar kemajuan tidak kehilangan arah, dan nilai-nilai agama tidak terjebak dalam romantisme masa lalu.

Jika direnungkan, gagasan para tokoh itu sesungguhnya bertemu pada satu titik yang sama. Pendidikan bukan hanya urusan mencerdaskan kepala. Pendidikan adalah ikhtiar mematangkan hati.

Karena itulah saya selalu percaya bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak anak yang menguasai sains, teknologi, atau bahasa asing.

Semua itu penting.

Tetapi bangsa ini juga membutuhkan generasi yang mampu menggunakan ilmunya untuk menghadirkan kemaslahatan.

Dalam tradisi Islam, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula amanahnya. Ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan bersama tanggung jawab. Madrasah, dalam pandangan saya, sedang berusaha merawat semangat itu.

Bukan untuk menjadikan lulusannya lebih hebat daripada lulusan sekolah umum. Bukan pula untuk menciptakan sekat antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Melainkan untuk mengingatkan bahwa keberhasilan dunia tidak pernah boleh dipisahkan dari tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama manusia.

Tulisan ini bukan ajakan agar semua orang memilih madrasah. Saya juga tidak sedang membandingkan madrasah dengan sekolah umum seolah keduanya saling berhadapan. Keduanya merupakan bagian penting dari sistem pendidikan nasional.

Keduanya memiliki peran yang sama mulia. Namun saya ingin mengajak kita mengubah satu cara pandang. Barangkali yang perlu kita kejar bukanlah sekolah yang paling bergengsi. Melainkan sekolah yang paling mampu membantu anak-anak kita bertumbuh menjadi manusia seutuhnya.

Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Dunia membutuhkan orang-orang cerdas yang tetap memiliki hati. Kita mungkin tidak sedang kekurangan sekolah. Kita juga tidak sedang kekurangan kurikulum, gedung baru, ataupun teknologi pembelajaran. Yang mulai langka justru adalah kesadaran bahwa pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan jalan menuju kedewasaan sebagai manusia.

Sebagai guru, saya percaya ilmu akan terus berkembang mengikuti zaman. Teknologi akan terus berubah. Cara belajar pun akan selalu menemukan bentuk-bentuk baru. Namun ada satu hal yang saya yakini tidak akan pernah usang yaitu Adab.

Sebab ilmu dapat mengantarkan seseorang menuju keberhasilan. Tetapi adablah yang menentukan apakah keberhasilan itu akan membawa manfaat atau justru menghadirkan kerusakan.

Dan jika pendidikan masih ingin disebut sebagai ikhtiar memanusiakan manusia, maka tugas terbesarnya bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas, melainkan generasi yang mengetahui untuk apa kecerdasannya digunakan.

Mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar prestasi, kita perlu kembali mengingat satu hal yang paling sederhana. Bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah melahirkan manusia yang paling pandai. Melainkan melahirkan manusia yang, karena ilmunya, menjadi semakin rendah hati; yang, karena pengetahuannya, semakin bermanfaat; dan yang, karena adabnya, mampu menjaga martabat dirinya sekaligus memuliakan orang lain.

Di situlah, saya percaya, peradaban yang baik selalu bermula.


*Firman Saefatullah, M. Pd (Guru MAN 3 Majalengka)

Dari Gerbang Madrasah, Kebaikan Itu Dimulai: Kehangatan Nurusshabah Menguatkan Langkah Siswa MAN 3 Majalengka


Jatiwangi (MAN 3 Majalengka)
— Tidak semua pelajaran dimulai dari buku. Ada kalanya, pendidikan berawal dari sebuah senyum yang tulus, sapaan yang hangat, dan jabat tangan yang penuh penghormatan. Itulah suasana yang menyelimuti gerbang Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka pada Senin pagi (20/7/2026), ketika para guru lebih dahulu hadir untuk menyambut setiap langkah peserta didiknya.

Matahari perlahan mengusir dinginnya embun yang masih menggantung di dedaunan. Satu per satu siswa datang dengan wajah yang masih menyimpan kantuk, lalu berubah menjadi senyum ketika disambut salam dari bapak dan ibu guru. Tidak ada sekat antara pendidik dan peserta didik. Yang hadir adalah kehangatan, rasa hormat, dan kebersamaan yang tumbuh dari perjumpaan sederhana di awal hari.

Di depan gerbang madrasah, para guru berdiri berbaris dengan wajah ramah. Setiap siswa disambut dengan budaya 3S—Salam, Senyum, dan Santun. Jabat tangan yang terulur bukan sekadar kebiasaan rutin, melainkan doa yang diam-diam dipanjatkan agar hari itu menjadi awal yang baik bagi setiap anak yang sedang menapaki jalan menuntut ilmu.

Suasana itulah yang menjadi ruh Program Nurusshabah, sebuah pembiasaan yang diyakini mampu menghadirkan energi positif sebelum proses pembelajaran dimulai. Bagi MAN 3 Majalengka, menyambut siswa bukan hanya tentang menerima kedatangan mereka, tetapi juga memastikan setiap anak merasa diterima, dihargai, dan dicintai.

Tidak sedikit siswa yang tampak menundukkan kepala penuh hormat saat menyalami guru. Sebagian lainnya menyapa dengan wajah ceria. Momen yang hanya berlangsung beberapa detik itu justru menyimpan makna yang panjang. Di sanalah karakter dibangun, bukan melalui nasihat yang panjang, melainkan melalui keteladanan yang setiap hari mereka saksikan.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Sapi'i, S.Pd., mengatakan bahwa Nuurusshabah merupakan bagian dari pembiasaan karakter yang terus ditanamkan kepada seluruh peserta didik.

"Kami ingin anak-anak memulai hari dengan hati yang bahagia. Ketika mereka merasa diterima dan dihargai, semangat belajar akan tumbuh dengan sendirinya," ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari suasana yang mampu menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan saling menghargai. Karena itulah, setiap pagi menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut melalui tindakan nyata.

Guru Al-Qur'an Hadis, Subhanuddin, M.Si., menambahkan bahwa budaya memberi salam merupakan ajaran Islam yang memiliki kekuatan membangun hubungan antarmanusia.

"Salam adalah doa. Dari salam lahir rasa persaudaraan, saling menghormati, dan kepedulian. Jika itu menjadi kebiasaan, insyaallah madrasah akan dipenuhi keberkahan," tuturnya.

Apa yang dilakukan para guru ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi peserta didik. Ali Rahman Tsani, siswa kelas XI, mengaku penyambutan tersebut membuatnya lebih bersemangat menjalani aktivitas belajar.

"Kami merasa diperhatikan. Hal sederhana seperti ini membuat kami datang ke kelas dengan perasaan senang dan lebih siap belajar," ungkapnya.

Di balik gerbang itu, orang tua yang mengantar anak-anaknya pun dapat menyaksikan bagaimana pendidikan dijalankan dengan sentuhan kemanusiaan. Mereka melihat bahwa madrasah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kasih sayang, penghormatan, dan akhlakul karimah melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

Program Nuurusshabah menjadi bukti bahwa membangun karakter tidak selalu membutuhkan langkah besar. Justru dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, tumbuh pribadi-pribadi yang menghargai sesama, mencintai gurunya, dan siap menghormati siapa pun yang mereka temui dalam kehidupan.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, MAN 3 Majalengka memilih untuk tidak kehilangan makna dari sebuah perjumpaan. Madrasah ini percaya bahwa pendidikan terbaik lahir ketika ilmu berjalan berdampingan dengan keteladanan, dan kecerdasan tumbuh bersama kelembutan hati.

Karena sejatinya, masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh anak-anak yang cerdas, tetapi juga oleh generasi yang terbiasa menebarkan salam, menghadirkan senyum, serta menghormati setiap orang yang dijumpainya. Dan semua itu, bisa dimulai dari satu gerbang madrasah pada setiap pagi yang penuh harapan.

Kontributor: Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)

Ikrar yang Menguatkan Langkah, Upacara Bendera di MAN 3 Majalengka Teguhkan Disiplin dan Karakter Pelajar

Jatiwangi (MAN 3 Majalengka) — Mentari pagi baru mulai meninggi ketika ratusan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka memasuki lapangan upacara, Senin (20/7/2026). Berbalut seragam yang rapi, mereka berdiri membentuk barisan-barisan yang tertata. Di hadapan Sang Merah Putih, seluruh warga madrasah larut dalam suasana yang hening dan penuh khidmat, menandai dimulainya upacara bendera sebagai pembuka aktivitas pembelajaran di awal pekan.

Lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya menggema mengiringi pengibaran bendera. Sesaat kemudian, suasana berubah semakin syahdu ketika seluruh peserta mengheningkan cipta. Tidak ada percakapan yang terdengar. Yang tampak hanyalah wajah-wajah penuh kesungguhan, mencerminkan penghormatan terhadap jasa para pahlawan sekaligus tekad untuk menjadi generasi penerus yang bertanggung jawab.

Momentum tersebut menjadi semakin bermakna ketika Nunung Nuraisyah, S.Pd., yang bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan amanat kepada seluruh peserta. Ia mengajak para siswa untuk tidak sekadar datang ke madrasah demi memenuhi kewajiban, tetapi menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk belajar, berproses, dan membalas perjuangan orang tua dengan prestasi serta akhlak yang baik.

"Ikrar yang kalian ucapkan hari ini adalah komitmen untuk belajar sungguh-sungguh, disiplin, dan menjaga nama baik madrasah. Wujudkan juga dengan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, karena madrasah yang bersih mencerminkan karakter pelajarnya," pesannya.

Amanat tersebut seolah menemukan puncaknya ketika seluruh siswa bersama-sama mengucapkan Ikrar Pelajar. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, mereka meneguhkan janji untuk belajar dengan sungguh-sungguh, menaati tata tertib, menghormati guru dan orang tua, serta menjaga martabat sebagai pelajar madrasah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan serempak menggema di lapangan, menjadi pengingat bahwa setiap hak selalu diiringi dengan tanggung jawab.

Bagi MAN 3 Majalengka, pembacaan Ikrar Pelajar bukan sekadar pelengkap rangkaian upacara. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembiasaan karakter yang terus ditanamkan agar nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian tumbuh menjadi budaya di lingkungan madrasah.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Sapi'i, S.Pd., mengatakan bahwa karakter peserta didik dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya melalui penyampaian teori di dalam kelas.

"Kami ingin siswa membiasakan hal-hal baik setiap hari. Disiplin, menghormati guru, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab merupakan bagian dari karakter yang harus tumbuh dalam diri setiap peserta didik," ujarnya.

Menurutnya, pembiasaan seperti upacara bendera dan pembacaan Ikrar Pelajar menjadi media efektif untuk mengingatkan kembali tujuan utama siswa datang ke madrasah, yakni menuntut ilmu sekaligus membentuk akhlak yang mulia.

Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan karakter menjadi fondasi penting dalam setiap program pembinaan di madrasah. Prestasi akademik, menurutnya, harus berjalan seiring dengan pembentukan pribadi yang jujur, disiplin, religius, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui upacara bendera yang berlangsung penuh khidmat itu, MAN 3 Majalengka kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan intelektual, tetapi juga membangun karakter. Dari lapangan upacara, nilai-nilai kedisiplinan, cinta tanah air, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kebersihan kembali ditanamkan sebagai bekal bagi para pelajar dalam menjalani kehidupan, baik di lingkungan madrasah maupun di tengah masyarakat.

Kontributor: Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)

Menjemput Bayang Ka'bah di Lapangan Basket: Kisah "Penjaga" Arah Kiblat MAN 3 Majalengka



Rabu sore itu, 28 Mei 2026, jarum jam baru saja menyentuh pukul 16.27 WIB. Di bawah langit Jatiwangi yang perlahan melunak, Lapangan Basket MAN 3 Majalengka tidak sedang riuh oleh pantulan bola atau derap sepatu olahraga. Suasananya hening, namun sarat akan antusiasme. Ratusan pasang mata tertuju pada sebatang tongkat dan bayangan yang memanjang di atas semen kelabu.

Sore itu bukan sore biasa. Melalui fenomena astronomi Rashdul Kiblat, matahari sedang berada tepat di atas Ka’bah di Makkah. Sebuah peristiwa semesta yang melintasi ruang dan waktu, menghubungkan sebuah lapangan sekolah di Majalengka langsung dengan kiblat umat Islam di belahan bumi lain.

Bagi civitas akademika MAN 3 Majalengka, momen ini bukan sekadar rutinitas kalender astronomi yang usai begitu matahari terbenam. Ini adalah ikhtiar abadi untuk menyempurnakan sujud.

Menyatukan Sains dan Ketaatan

Lapangan basket tersebut memiliki detak nadi yang vital bagi madrasah. Di sana, keringat dilepaskan saat berolahraga, upacara bendera digelar, dan di sana pula sajadah-sajadah digelar ketika seluruh warga madrasah melaksanakan ibadah bersama di area terbuka. Memastikan ke mana wajah harus dihadapkan di lapangan ini menjadi sebuah misi spiritual yang mendesak.

Di sela-sela kesibukan mengamati pergerakan bayangan, Wakil Kepala Madrasah Bidang Hubungan Masyarakat sekaligus anggota Tim Rashdul Kiblat MAN 3 Majalengka, Nana Misnara, S.Pd.I., memandang lurus ke arah garis yang baru saja ditarik. Ada gurat kelegaan di wajahnya.

"Pengukuran ini sangat penting untuk menjadi rujukan utama ke arah mana kita menghadap saat melaksanakan shalat. Dengan arah kiblat yang telah dipastikan kebenarannya, diharapkan ibadah yang kita jalankan dapat terlaksana dengan lebih sempurna sesuai tuntunan syariat Islam," ujar Nana, suaranya terdengar mantap di antara desir angin sore.

Metode ini membuktikan sebuah narasi yang tak akan pernah usang oleh zaman: bahwa sains dan agama tidak pernah berjalan saling memunggungi. Astronomi hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari penciptanya, melainkan menjadi jembatan ilmiah yang memandu jalannya syariat agar tegak dengan presisi.

Riak Kecil yang Menjadi Gelombang Nasional

Ketika sebatang tongkat diletakkan tegak lurus, matahari menuliskan jawabannya lewat bayangan. Garis lurus berhasil ditarik. Kini, Lapangan Basket MAN 3 Majalengka telah memiliki patokan standar arah kiblat yang sahih, sebuah warisan akurasi yang akan terus digunakan oleh generasi-generasi siswa di tahun-tahun mendatang.

Namun, gerakan ini tidak berhenti di dalam pagar madrasah. Kesadaran untuk meluruskan shalat ini merembet ke rumah-rumah. Sore itu, para siswa, guru, dan staf pulang dengan membawa misi baru: memeriksa arah kiblat di ruang tamu, kamar, dan mushola rumah mereka sendiri.

Tercatat, ada 351 akun warga MAN 3 Majalengka yang antusias melaporkan hasil pengukuran mandiri mereka. Angka kecil ini merupakan bagian dari gelombang besar yang bergerak di seluruh penjuru negeri. Bersama mereka, ada 1.448.000 akun dari Sabang sampai Merauke yang ikut serta dalam gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Warisan Keyakinan untuk Masa Depan

Waktu akan terus berjalan, tahun-tahun akan berganti, dan para siswa yang sore itu menyaksikan jalannya pengukuran mungkin akan segera lulus. Namun, garis kiblat yang digoreskan di atas lapangan basket Jatiwangi itu akan tetap di sana.

Lebih dari sekadar garis, kegiatan ini meninggalkan warisan literasi yang berharga bagi masyarakat sekitar. Sebuah edukasi sederhana namun mendalam bahwa memverifikasi arah kiblat dapat dilakukan secara mandiri, ilmiah, dan mudah.

Melalui peristiwa Rashdul Kiblat ini, MAN 3 Majalengka tidak hanya berhasil meluruskan shalat di atas lapangan beton, tetapi juga telah menanamkan keyakinan yang kokoh di dalam dada setiap warganya—sebuah keyakinan yang tak akan pernah usang dimakan zaman, bahwa dalam setiap sujud, mereka kini menghadap ke arah yang benar.


Kontributor : Firman Saefatullah, M. Pd

Saturday, July 18, 2026

Cek Kesehatan Gratis, MAN 3 Majalengka Pastikan Murid Baru Siap Belajar



JATIWANGI (MAN 3 Majalengka) — Tim Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Palang Merah Remaja (PMR) MAN 3 Majalengka menggelar Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi seluruh siswa baru Tahun Ajaran 2026/2027, Kamis (16/7/2026), di Aula Indoor MAN 3 Majalengka.

Kegiatan ini bertujuan mengetahui kondisi kesehatan siswa sejak awal masuk madrasah. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar untuk memberikan edukasi dan pendampingan agar siswa dapat belajar dengan sehat dan nyaman.

Pemeriksaan dilakukan melalui empat tahap, yaitu registrasi, pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah serta tanda-tanda vital, lalu dilanjutkan dengan konsultasi kesehatan. Seluruh peserta mengikuti pemeriksaan secara bergiliran sesuai jadwal kelas.

Pembina UKS dan PMR, Rosyidatul Awaliyah, S.Pd., mengatakan pemeriksaan kesehatan penting dilakukan sejak awal agar kondisi siswa dapat diketahui lebih cepat.

"Melalui pemeriksaan ini kami bisa mengetahui kondisi kesehatan dasar siswa. Jika ditemukan hal yang perlu diperhatikan, kami dapat memberikan edukasi dan menyarankan pemeriksaan lanjutan. Harapannya, siswa semakin terbiasa menerapkan pola hidup bersih dan sehat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., menegaskan bahwa kesehatan menjadi modal utama bagi peserta didik untuk meraih prestasi.

"Siswa yang sehat akan lebih siap mengikuti pembelajaran. Karena itu, kami ingin memastikan kondisi mereka sejak awal masuk madrasah," katanya.

Hasil pemeriksaan menunjukkan sebagian besar siswa berada dalam kondisi sehat. Namun, tim UKS juga menemukan beberapa siswa dengan tekanan darah yang perlu dipantau, status gizi kurang atau berlebih, serta indikasi anemia ringan pada beberapa siswi. Mereka mendapat edukasi tentang pentingnya makan bergizi, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga.

Bagi siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, tim UKS memberikan konseling dan menyarankan pemeriksaan lanjutan di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

Melalui kegiatan ini, MAN 3 Majalengka ingin membiasakan siswa peduli terhadap kesehatan sejak dini. Dengan tubuh yang sehat, mereka diharapkan dapat belajar lebih optimal, berprestasi, dan tumbuh menjadi generasi yang kuat, cerdas, dan berkarakter.


Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)

Awali dengan Bismillah Agar Aktifitas Kita Berkah, Nasihat Khotib Jum'at di Masjid Al Azfar MAN 3 Majalengka


 Jatiwangi (MAN 3 Majalengka) — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al Azfar MAN 3 Majalengka saat murid, guru, dan tenaga kependidikan melaksanakan Shalat Jumat, Jumat (17/7/2026). Kegiatan rutin pembinaan keagamaan ini diikuti seluruh jamaah dengan tertib.

Khutbah disampaikan oleh Guru Akidah Akhlak MAN 3 Majalengka, Ust. Solehudin, S.Pd. Ia mengajak jamaah membiasakan mengawali setiap aktivitas dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim sebagai bentuk tawakal kepada Allah Swt. sekaligus harapan agar setiap pekerjaan mendapat keberkahan.

"Basmalah bukan sekadar ucapan pembuka, tetapi wujud penyerahan diri kepada Allah. Dengan memulainya atas nama Allah, setiap aktivitas dapat bernilai ibadah dan membawa manfaat," ujarnya.

Pesan yang disampaikan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jamaah pun menyimak khutbah dengan tenang dan penuh perhatian hingga rangkaian ibadah selesai.

Usai salat, Pembina Keagamaan MAN 3 Majalengka, Jali Rojali, S.Pd.I., mengatakan bahwa Shalat Jumat menjadi bagian dari pembinaan karakter religius di madrasah.

"Shalat Jumat bukan hanya memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga membentuk karakter. Kami berharap nilai-nilai religius yang dibiasakan di madrasah dapat terus diterapkan di keluarga dan masyarakat," katanya.

Melalui pembiasaan ibadah secara rutin, MAN 3 Majalengka terus berupaya menyeimbangkan penguatan akademik dan pembinaan karakter agar lahir generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.


Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)

Tuesday, July 14, 2026

Terbangkan Pesawat Harapan Tandai Pembukaan MATAMUDA 2026 MAN 3 Majalengka

Jatiwangi-MAN 3 MAJALENGKA. Hj. Ela Nurlaela, M. Pd., Kepala MAN 3 Majalengka resmi membuka Masa Ta'aruf Murid Baru (MATAMUDA) 2026 pada hari senin tanggal 13 Juli 2026 dengan secara bersama-sama dengan semua peserta menerbangkan pesawat harapan ke arah langit.

Dalam amanahnya Hj Ela Nurlaela menerangkan bahwa penerbangan pesawat kertas yang ditulisi harapan menjadi simbol di sematkannya harapan-harapan yang baik sebagai tujuan para murid baru mengenyam pendidikan di MAN 3 Majalengka. Pesawat yang melaju ke arah atas menunjukkan harus adanya progress yang meningkat dari sebelum belajar di MAN. 

Kita sudah ditakdirkan untuk bersama di sini, di MAN 3 Majalengka. oleh karenanya kita harus fokus dan tidak lagi menoleh ke kanan dan ke kiri. Fokus para murid dalam belajar akan menentukan hasil dari proses yang di jalani selama di Madrasah. Kalau fokus dan tidak ragu, insyaallah akan sukses. terang Hj. ela Nurlaela.

Giat MATAMUDA akan di gelar selama 3 hari bertempat di lingkungan MAN 3 Majalengka. Sebagai wahana pengenalan lingkungan belajar di madrasah, murid baru akan diperkenalkan ke semua sarana dan prasarana yang ada di madrasah. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah para murid baru beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang baru.

Selama MATAMUDA para murid baru akan diperkenalkan pada semua warga madrasah. Terutama pada tenaga pendidik atau guru yang akan mengajar dan membimbing selama di madrasah, juga akan diperkenalkan pada tenaga kependidikan yang akan membantu dan memfasilitasi dukungan kegiatan pembelajaran. 

Pemaparan materi sebagai bentuk ikhtiar mempermudah pemahaman dan adapatasi peserta MATAMUDA akan di sampaikan oleh beberapa narasumber yang terdiri dari Guru, Pembina Ekstrakulikuler dan Profesional yang ahli dibidangnya.

Materi yang akan dipaparkan antara lain Pencegahan ekstrimisme dan narkoba oleh kepolisian, Bela negara oleh Tentara, Bimbingan usia remaja sekolah oleh psikolog, Nilai-nilai kemadrasahan oleh kepala madrasah, dan materi-materi yang disampaikan oleh wakil kepala madrasah dan pembina ekstrakulikuler.  

Thursday, July 2, 2026

Kemenag Gelar Sosialisasi Juknis MATAMUDA TP 2026/2027 Hari Ini Lewat YouTube


Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia menyelenggarakan agenda penting hari ini. Sosialisasi Petunjuk Teknis (Juknis) MATAMUDA (Masa Taaruf Murid Madrasah) Tahun Pelajaran 2026/2027 disiarkan secara langsung untuk memberikan panduan resmi bagi seluruh satuan pendidikan madrasah di Indonesia. 
Acara ini sangat krusial bagi pengelola madrasah agar proses orientasi siswa baru berjalan seragam, edukatif, dan sesuai dengan regulasi terbaru yang ditetapkan pemerintah. Berikut informasi lengkap pelaksanaan sosialisasi: Waktu & Saluran Penyiaran, Hari / Tanggal: Kamis, 2 Juli 2026 Waktu: Jam 10.00 WIB, Media Penyiaran: Live YouTube di Pendis Channel, Narasumber Utama Sosialisasi ini menghadirkan para pemangku kebijakan dan tim ahli langsung dari Kementrian Agama : Prof. Dr. Hj. Nyayu Khodijah (Direktur KSKK Madrasah) H. Sholla Taufiq (Kasubdit Kesiswaan KSKK Madrasah) H. Ngusri Yusron (Tim Kesiswaan) Pemandu Acara Host: Yutun Wulandari, Seluruh kepala madrasah, guru, komite, dan panitia penerimaan murid baru diimbau untuk menyimak tayangan ini agar memahami teknis pelaksanaan MATAMUDA TP 2026/2027 secara utuh.