Pusat Informasi dan Publikasi MAN 3 Majalengka

Monday, July 20, 2026

Dari Gerbang Madrasah, Kebaikan Itu Dimulai: Kehangatan Nurusshabah Menguatkan Langkah Siswa MAN 3 Majalengka


Jatiwangi (MAN 3 Majalengka)
— Tidak semua pelajaran dimulai dari buku. Ada kalanya, pendidikan berawal dari sebuah senyum yang tulus, sapaan yang hangat, dan jabat tangan yang penuh penghormatan. Itulah suasana yang menyelimuti gerbang Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka pada Senin pagi (20/7/2026), ketika para guru lebih dahulu hadir untuk menyambut setiap langkah peserta didiknya.

Matahari perlahan mengusir dinginnya embun yang masih menggantung di dedaunan. Satu per satu siswa datang dengan wajah yang masih menyimpan kantuk, lalu berubah menjadi senyum ketika disambut salam dari bapak dan ibu guru. Tidak ada sekat antara pendidik dan peserta didik. Yang hadir adalah kehangatan, rasa hormat, dan kebersamaan yang tumbuh dari perjumpaan sederhana di awal hari.

Di depan gerbang madrasah, para guru berdiri berbaris dengan wajah ramah. Setiap siswa disambut dengan budaya 3S—Salam, Senyum, dan Santun. Jabat tangan yang terulur bukan sekadar kebiasaan rutin, melainkan doa yang diam-diam dipanjatkan agar hari itu menjadi awal yang baik bagi setiap anak yang sedang menapaki jalan menuntut ilmu.

Suasana itulah yang menjadi ruh Program Nurusshabah, sebuah pembiasaan yang diyakini mampu menghadirkan energi positif sebelum proses pembelajaran dimulai. Bagi MAN 3 Majalengka, menyambut siswa bukan hanya tentang menerima kedatangan mereka, tetapi juga memastikan setiap anak merasa diterima, dihargai, dan dicintai.

Tidak sedikit siswa yang tampak menundukkan kepala penuh hormat saat menyalami guru. Sebagian lainnya menyapa dengan wajah ceria. Momen yang hanya berlangsung beberapa detik itu justru menyimpan makna yang panjang. Di sanalah karakter dibangun, bukan melalui nasihat yang panjang, melainkan melalui keteladanan yang setiap hari mereka saksikan.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Sapi'i, S.Pd., mengatakan bahwa Nuurusshabah merupakan bagian dari pembiasaan karakter yang terus ditanamkan kepada seluruh peserta didik.

"Kami ingin anak-anak memulai hari dengan hati yang bahagia. Ketika mereka merasa diterima dan dihargai, semangat belajar akan tumbuh dengan sendirinya," ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari suasana yang mampu menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan saling menghargai. Karena itulah, setiap pagi menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut melalui tindakan nyata.

Guru Al-Qur'an Hadis, Subhanuddin, M.Si., menambahkan bahwa budaya memberi salam merupakan ajaran Islam yang memiliki kekuatan membangun hubungan antarmanusia.

"Salam adalah doa. Dari salam lahir rasa persaudaraan, saling menghormati, dan kepedulian. Jika itu menjadi kebiasaan, insyaallah madrasah akan dipenuhi keberkahan," tuturnya.

Apa yang dilakukan para guru ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi peserta didik. Ali Rahman Tsani, siswa kelas XI, mengaku penyambutan tersebut membuatnya lebih bersemangat menjalani aktivitas belajar.

"Kami merasa diperhatikan. Hal sederhana seperti ini membuat kami datang ke kelas dengan perasaan senang dan lebih siap belajar," ungkapnya.

Di balik gerbang itu, orang tua yang mengantar anak-anaknya pun dapat menyaksikan bagaimana pendidikan dijalankan dengan sentuhan kemanusiaan. Mereka melihat bahwa madrasah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kasih sayang, penghormatan, dan akhlakul karimah melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

Program Nuurusshabah menjadi bukti bahwa membangun karakter tidak selalu membutuhkan langkah besar. Justru dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, tumbuh pribadi-pribadi yang menghargai sesama, mencintai gurunya, dan siap menghormati siapa pun yang mereka temui dalam kehidupan.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, MAN 3 Majalengka memilih untuk tidak kehilangan makna dari sebuah perjumpaan. Madrasah ini percaya bahwa pendidikan terbaik lahir ketika ilmu berjalan berdampingan dengan keteladanan, dan kecerdasan tumbuh bersama kelembutan hati.

Karena sejatinya, masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh anak-anak yang cerdas, tetapi juga oleh generasi yang terbiasa menebarkan salam, menghadirkan senyum, serta menghormati setiap orang yang dijumpainya. Dan semua itu, bisa dimulai dari satu gerbang madrasah pada setiap pagi yang penuh harapan.

Kontributor: Firman Saefatullah (Pemb. Jurnalistik)

No comments:

Post a Comment