Santri putra dan putri duduk bersila bersama KH. Agus Jamaluddin, mengurai kunci pembuka pintu kitab kuning
Majalengka (MAN 3 Majalengka) – Ketika malam mulai merambat dan aktivitas sekolah telah usai, lantai dua asrama MAN 3 Majalengka justru bergema oleh lantunan suara para santri. Pada Selasa malam Rabu (06/10/2026), majlis asrama menjadi ruang belajar yang hangat dalam sebuah kajian kitab shorof karya Syekh Muhammad Ma’shum bin Ali, dengan materi tashrif lughowiy. Kajian ini diampu langsung oleh KH. Agus Jamaluddin, S.Ag., M.M.Pd., Kepala Asrama MAN 3 Majalengka.
Tidak ada panggung megah, tidak pula perangkat yang berlebihan. Para peserta duduk bersila di atas lantai keramik putih, membentuk barisan yang tertib: santri putra di satu sisi, santri putri di sisi lainnya. Di hadapan mereka, sang kiai duduk di atas kursi sambil memegang kitab, memandu pembahasan dari awal hingga akhir. Pemandangan yang sederhana ini justru memancarkan suasana khas pesantren: khusyuk, tertib, dan penuh adab dalam menuntut ilmu.
Santri putra dan putri mengikuti kajian kitab shorof yang diampu KH. Agus Jamaluddin di majlis asrama lantai 2, Selasa malam Rabu (06/10/2026).
Satu per satu peserta membuka kitab di pangkuan masing-masing. Sebagian menyimak dengan saksama, sebagian lain menggoreskan pena di atas kertas untuk mencatat penjelasan yang disampaikan. Sesekali terdengar suara mereka melafalkan bersama bentuk-bentuk perubahan kata sebagaimana tertulis dalam kitab. Malam itu, majlis asrama bukan sekadar ruangan, melainkan tempat tumbuhnya kebiasaan baik: belajar bersama, bersabar, dan menghormati guru.
Mengapa Shorof Begitu Penting?
Dalam tradisi pesantren, ilmu shorof menempati kedudukan yang istimewa. Ada ungkapan yang masyhur di kalangan santri bahwa shorof adalah ibu dari ilmu-ilmu bahasa Arab, sedangkan nahwu adalah bapaknya. Keduanya saling melengkapi: nahwu mengatur kedudukan kata dalam kalimat, sementara shorof membahas perubahan bentuk kata itu sendiri.
Dalam bahasa Arab, satu kata kerja dapat berubah bentuk mengikuti waktu terjadinya perbuatan, pelaku, jumlah pelaku, hingga jenis kelamin pelaku. Perubahan itu tampak kecil, kadang hanya pada harakat atau akhiran kata, tetapi dampaknya pada makna sangat besar. Tanpa bekal shorof yang memadai, pembaca kitab kuning mudah keliru dalam memahami siapa yang melakukan perbuatan, kapan perbuatan itu terjadi, dan bagaimana kedudukannya dalam kalimat.
Itulah sebabnya shorof lazim diajarkan sejak tahap awal belajar di pesantren, sebelum santri melangkah ke pembahasan nahwu, tafsir, hadis, dan fikih. Ia adalah fondasi: tidak tampak megah, tetapi menentukan kokohnya bangunan ilmu di atasnya.
“Shorof itu ibarat kunci. Kalau kuncinya belum kita pegang, pintu kitab kuning akan terasa tertutup rapat. Tetapi kalau sudah paham, satu per satu pintu itu akan terbuka dengan sendirinya.” — KH. Agus Jamaluddin, S.Ag., M.M.Pd.
Mengenal Kitab dan Materi Tashrif Lughowiy
Kitab yang dikaji malam itu adalah karya Syekh Muhammad Ma’shum bin Ali, ulama Nusantara yang karyanya luas digunakan di pesantren-pesantren sebagai pegangan dasar ilmu shorof. Kitab ini dikenal dengan nama Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah, dan disusun dengan banyak contoh sehingga pembelajar dapat memahami kaidah melalui pola-pola yang konkret dan berulang.
Secara bahasa, tashrif berarti perubahan. Dalam pembahasan shorof dikenal dua macam tashrif, yaitu tashrif istilahi dan tashrif lughowi. Tashrif istilahi adalah perubahan satu kata dasar menjadi bentuk-bentuk lain yang memiliki makna berbeda, seperti fi’il madhi, fi’il mudhari’, mashdar, isim fa’il, isim maf’ul, fi’il amr, dan fi’il nahi. Adapun tashrif lughowi adalah perubahan bentuk kata kerja menurut dhamir, yakni kata ganti pelakunya.
Dalam tradisi pesantren, tashrif lughowi dikenal dengan empat belas bentuk (shighat). Bentuk-bentuk itu dibagi menurut orang yang dibicarakan (ghaib), orang yang diajak bicara (mukhatab), dan orang yang berbicara (mutakallim), lalu dirinci lagi menurut jumlah (satu, dua, atau banyak) serta jenis kelamin (laki-laki atau perempuan). Dari satu kata kerja yang sama, bentuknya akan berubah mengikuti siapa pelakunya: “dia laki-laki”, “mereka berdua”, “mereka semua”, “dia perempuan”, “kamu”, hingga “aku” dan “kami”.
Materi ini menuntut ketelitian dan kekuatan hafalan, namun polanya teratur. Begitu seorang santri menguasai perubahan pada satu kata kerja, pola yang sama dapat ia terapkan pada banyak kata kerja lainnya. Di sinilah letak keindahan ilmu shorof: dari satu contoh, terbuka jalan untuk memahami ratusan kata.
KH. Agus Jamaluddin memandu pembahasan sambil memegang kitab, sementara para peserta menyimak dan mencatat.
Pesan Sang Kiai: Ilmu Dibangun Sedikit demi Sedikit
Dalam kesempatan itu, KH. Agus Jamaluddin tidak hanya menjelaskan kaidah, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan yang menyentuh. Menurut beliau, mempelajari tashrif lughowi adalah latihan kesabaran sekaligus latihan ketelitian. Setiap perubahan harakat dan akhiran harus diperhatikan dengan cermat, sebab kekeliruan kecil dapat mengubah makna dan pelakunya.
“Tashrif lughowi itu melatih ketelitian. Satu perubahan harakat atau satu akhiran saja bisa mengubah pelaku dan maknanya. Karena itu santri harus teliti, sabar, dan tidak bosan mengulang.” — KH. Agus Jamaluddin
Beliau juga mengingatkan agar para santri tidak tergesa-gesa ingin cepat pandai. Ilmu, kata beliau, tidak tumbuh dalam semalam. Ia dibangun dari hafalan yang kuat, latihan yang terus-menerus, dan kemauan untuk bertanya ketika belum paham.
“Jangan terburu-buru ingin pandai. Ilmu itu dibangun sedikit demi sedikit: dihafal, dilatih, lalu diamalkan. Yang penting istikamah, meskipun hanya sedikit setiap hari.” — KH. Agus Jamaluddin
Selain kesungguhan, adab kepada guru dan kepada ilmu itu sendiri turut ditekankan. Dalam pandangan pesantren, keberkahan ilmu tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kesantunan penuntutnya.
“Keberkahan ilmu itu datang dari adab kepada guru dan kesungguhan dalam belajar. Pintar saja belum cukup kalau tidak disertai akhlak yang baik.” — KH. Agus Jamaluddin
Menyimak, Mencatat, Melafalkan
Jalannya kajian berlangsung dalam suasana yang tenang. Peserta diajak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat aktif: membuka kitab, memperhatikan setiap bentuk perubahan kata, mencatat poin penting, dan melafalkan bersama-sama. Perpaduan antara menyimak, menulis, dan melafal ini membantu materi tertanam lebih kuat, terutama untuk bentuk-bentuk tashrif yang memang harus dihafal.
Di balik keseriusan itu, tampak pula keakraban. Para santri putri yang duduk berbaris di sisi dinding terlihat khusyuk menatap kitab, sementara santri putra di bagian depan melafalkan bacaan dengan penuh konsentrasi. Perbedaan tempat duduk tidak menghalangi semangat yang sama: sama-sama ingin bisa membaca kitab dengan benar.
Santri putra melafalkan bacaan sambil memegang kitab dan pena, diikuti santri putri di barisan belakang.
Kebiasaan semacam ini menjadi bagian dari pembinaan keseharian di asrama. Dengan belajar langsung dari kitab dan dibimbing oleh guru yang sabar, para peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang berbeda dari kelas formal: lebih dekat, lebih personal, dan lebih sarat nilai.
Dari Hafalan Menuju Pemahaman
Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam kajian ini adalah bahwa menghafal bentuk-bentuk tashrif bukanlah tujuan akhir. Hafalan hanyalah pintu masuk. Tujuan sesungguhnya adalah kemampuan mengenali bentuk kata ketika bertemu dengannya dalam teks: siapa pelakunya, tunggal atau jamak, laki-laki atau perempuan, serta bagaimana hal itu memengaruhi makna kalimat.
Bagi peserta didik madrasah, kemampuan ini bermanfaat jauh melampaui ruang kajian. Pelajaran bahasa Arab, Al-Qur’an Hadis, hingga pelajaran keagamaan lainnya banyak bersinggungan dengan teks berbahasa Arab. Santri yang terbiasa dengan pola tashrif akan lebih mudah mengenali bentuk kata, menebak maknanya, dan membaca teks dengan benar dari segi bunyi maupun artinya.
“Hafalan itu hanya pintu masuk. Yang kita tuju adalah paham. Kalau sudah paham, ketika bertemu kata dalam kitab atau dalam ayat, kita tahu itu bentuk apa dan siapa pelakunya.” — KH. Agus Jamaluddin
Tips Belajar dari Sang Kiai
Menyadari bahwa hafalan tashrif memerlukan ketekunan, KH. Agus Jamaluddin juga membagikan sejumlah kiat sederhana kepada para santri. Di antaranya adalah mengulang materi secara rutin dalam waktu singkat setiap hari, melafalkannya dengan irama yang teratur agar mudah diingat, dan saling menyimak dengan teman sebagai bentuk latihan bersama.
“Hafalan itu seperti menanam. Kalau disiram sedikit tapi setiap hari, akan tumbuh. Kalau disiram banyak tapi hanya sekali, mudah layu. Maka ulangi setiap hari, walau sebentar.” — KH. Agus Jamaluddin
Beliau menambahkan bahwa belajar bersama akan terasa lebih ringan dibandingkan belajar sendirian. Teman yang saling mengoreksi dapat menjadi cermin yang jujur: kesalahan segera diketahui, dan keberhasilan bisa dirayakan bersama. Semangat inilah yang juga dibangun melalui majlis asrama, di mana santri putra dan putri belajar dalam suasana yang sama, tertib, dan saling menghormati.
Para peserta pun diingatkan agar tidak malu bertanya. Dalam tradisi keilmuan Islam, bertanya dipandang sebagai bagian dari adab menuntut ilmu, selama dilakukan dengan sopan dan pada waktu yang tepat. Pertanyaan yang baik, kata para ulama, adalah separuh dari ilmu.
Asrama sebagai Ruang Tumbuh Karakter
Sebagai Kepala Asrama, KH. Agus Jamaluddin memandang bahwa asrama tidak boleh hanya menjadi tempat tinggal. Menurutnya, asrama harus menjelma ruang pembinaan yang menumbuhkan ilmu, adab, dan kebersamaan secara seimbang. Kajian kitab di malam hari merupakan salah satu cara menghidupkan fungsi itu, sekaligus mengisi waktu santri dengan kegiatan yang bermanfaat.
“Asrama ini bukan sekadar tempat tidur dan makan. Asrama harus menjadi tempat tumbuhnya ilmu, adab, dan rasa persaudaraan. Dari majlis seperti inilah karakter anak-anak dibentuk.” — KH. Agus Jamaluddin
Dalam suasana asrama, kebersamaan memang menjadi kekuatan tersendiri. Para peserta belajar bersama, saling mengingatkan, dan terbiasa hidup tertib dalam jadwal yang teratur. Nilai-nilai itu diharapkan terbawa hingga ke lingkungan madrasah, keluarga, dan masyarakat.
Harapan untuk Para Santri
Menutup rangkaian kajian, KH. Agus Jamaluddin menyampaikan harapan agar bekal yang diperoleh malam itu tidak berhenti sebagai catatan di atas kertas. Ia berharap para santri dapat mengulang materi secara mandiri, saling menyimak hafalan di antara teman, dan menjadikannya pijakan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama yang lebih luas.
“Harapan saya, anak-anak punya bekal dasar yang kuat untuk membaca kitab, memahami Al-Qur’an dan hadis, dan kelak bermanfaat bagi masyarakat. Mulailah dari yang dasar, dan jangan pernah merasa cukup belajar.” — KH. Agus Jamaluddin
Ia juga berpesan agar semangat belajar tidak dibatasi oleh ruang dan jam pelajaran. Malam hari, menurutnya, adalah waktu yang berharga untuk menambah ilmu, asalkan dijalani dengan niat yang lurus dan disiplin yang terjaga.
“Belajar itu tidak mengenal waktu dan tempat. Selagi ada kemauan, majlis kecil seperti ini bisa menjadi pintu besar menuju kebaikan.” — KH. Agus Jamaluddin
Kajian malam itu ditutup dalam suasana penuh kehangatan. Para peserta kembali ke ruangan masing-masing dengan membawa catatan, hafalan, dan semangat baru. Kegiatan sederhana di lantai dua asrama ini menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak selalu lahir dari program yang besar; kadang ia tumbuh dari majlis kecil yang dijalankan dengan istikamah.
Melalui kajian seperti ini, MAN 3 Majalengka berharap asrama dapat terus berperan sebagai ruang pembinaan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap berkontribusi bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Kontributor: KH. Agus Jamaluddin, S.Ag., M.M.Pd
No comments:
Post a Comment